Alasan IHSG Anjlok dan Agenda Ekonomi Global

Author Image

Endang Wulansari

26 Oktober 2026, 10:31 WIB

Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru-baru ini mengalami tekanan hebat dengan penurunan mencapai angka 1 persen. Gejolak di pasar modal domestik ini tidak lepas dari pergerakan sejumlah saham berkapitalisasi besar yang mengalami koreksi tajam. Beberapa emiten yang menjadi motor utama pelemahan indeks antara lain adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

Meski demikian, pasar tidak sepenuhnya merah. Terdapat beberapa saham yang justru menjadi penopang di tengah badai penurunan ini. Saham-saham tersebut meliputi PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Alasan IHSG Anjlok dan Agenda Ekonomi Global
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kondisi ini seolah menjadi sinyal bahwa pasar keuangan, baik di Indonesia maupun global, tengah memasuki pekan yang sangat krusial. Ketegangan geopolitik akibat konflik perang yang masih berlangsung tetap menjadi penggerak utama sentimen pasar. Selain itu, para pelaku pasar kini tengah bersiap menghadapi rentetan agenda besar dari bank-bank sentral dunia yang akan menentukan arah kebijakan moneter, nilai tukar, hingga harga komoditas.

Dalam pekan ini, tujuh bank sentral dijadwalkan akan memberikan pengumuman penting. Mulai dari State Bank of Pakistan, Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat, Bank of Canada, Reserve Bank of New Zealand, Bank of Thailand, European Central Bank (ECB), hingga Bank of Japan (BOJ).

Salah satu sorotan utama adalah keputusan suku bunga The Fed. Investor sangat menantikan pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, terkait prospek inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja di Amerika Serikat. Jika The Fed memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat atau hawkish, hal ini berisiko memperkuat dolar AS dan menekan aset-aset di negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, data pertumbuhan ekonomi (PDB) AS serta data inflasi PCE yang akan dirilis menjadi indikator kunci yang sangat dinantikan.

Tak hanya Amerika, mata dunia juga tertuju pada China. Sidang Pleno Kelima Komite Sentral Partai Komunis China menjadi agenda yang sangat strategis karena akan menentukan arah kebijakan ekonomi, teknologi, dan industri negara tersebut. Hasil dari pertemuan ini akan berdampak langsung pada iklim bisnis global serta harga komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia.

Di kawasan Eropa, pasar akan memantau keputusan suku bunga ECB serta data pertumbuhan ekonomi zona euro yang diprediksi mengalami perlambatan. Sementara itu, dari Asia, Bank of Japan (BOJ) juga akan memberikan arah kebijakan moneter yang dapat memengaruhi arus modal di kawasan Pasifik.

Dengan banyaknya variabel ekonomi yang bergerak secara bersamaan, para investor disarankan untuk tetap waspada dan cermat dalam mengelola portofolio mereka di tengah ketidakpastian pasar yang tinggi ini.

Related Post