Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia kembali menghadapi tekanan hebat pada awal pekan ini. Setelah sempat menunjukkan performa impresif dengan kenaikan signifikan sebesar 4,9% sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berbalik arah dan mengalami koreksi tajam pada perdagangan Senin (26/10/2026). Penurunan ini menjadi sorotan para pelaku pasar karena terjadi secara mendadak setelah periode penguatan yang cukup panjang.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, IHSG merosot sebanyak 66,16 poin atau setara dengan penurunan 1,22%. Kondisi ini membawa indeks ke level 5.373,09. Tekanan jual yang kuat ini terlihat dari volume transaksi yang mencapai 285,61 juta lot, dengan total nilai transaksi yang menyentuh angka fantastis, yakni Rp12,6 triliun. Fenomena ini menunjukkan adanya volatilitas tinggi di pasar modal saat ini, di mana sentimen negatif tampaknya mulai mendominasi psikologi investor.
Menariknya, di tengah badai koreksi yang menghantam pasar secara keseluruhan, terdapat anomali yang menarik perhatian. Meskipun investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) secara masif, mereka ternyata masih melakukan strategi "belanja" di beberapa instrumen tertentu. Tercatat, investor asing melakukan penjualan bersih sebesar Rp1,85 triliun di seluruh pasar, dengan angka yang lebih besar yakni Rp2,03 triliun pada pasar reguler. Namun, di sisi lain, mereka justru melakukan pembelian bersih senilai Rp172,12 triliun melalui pasar negosiasi dan tunai.
Also Read
Perbedaan strategi antara pasar reguler dan pasar negosiasi ini mengindikasikan bahwa investor asing sedang melakukan rebalancing portofolio. Mereka melepas saham-saham tertentu di pasar reguler, namun secara agresif mengumpulkan saham-saham pilihan di pasar lainnya. Hal ini memicu pertanyaan di kalangan analis: saham apa saja yang menjadi incaran para investor global di tengah ketidakpastian pasar ini?
Berdasarkan pantauan data dari Stockbit, terdapat sejumlah saham yang menjadi primadona dan banyak diborong oleh investor asing meskipun IHSG sedang mengalami tren menurun. Fenomena ini menunjukkan bahwa investor asing melihat adanya peluang atau nilai intrinsik yang menarik pada emiten-emiten tersebut, sehingga mereka tetap melakukan aksi beli bersih (net foreign buy) untuk memperkuat posisi mereka.
Meskipun daftar lengkap 10 saham tersebut sangat dinamis mengikuti pergerakan pasar, aksi borong asing ini menjadi sinyal penting bagi investor ritel. Hal ini menunjukkan bahwa koreksi IHSG tidak selalu berarti sentimen negatif terhadap seluruh emiten. Ada kelompok saham tertentu yang tetap menjadi pilihan utama bagi modal asing untuk melakukan akumulasi, yang bisa menjadi indikator pemulihan pasar di masa mendatang. Para investor disarankan untuk tetap waspada dan terus memantau pergerakan arus modal asing guna menentukan strategi investasi yang tepat di tengah kondisi pasar yang fluktuatif ini.






