Pasar Saham Anjlok Drastis Hari Ini

Author Image

Endang Wulansari

29 Oktober 2026, 15:04 WIB

<strong>Jabarpos.id – </strong> Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami guncangan hebat pada perdagangan Kamis sore menjelang penutupan pasar. Setelah sempat menunjukkan optimisme di awal sesi, indeks justru terjun bebas dan mencatatkan penurunan tajam hingga menyentuh angka 3,04 persen.

Pergerakan IHSG hari ini tergolong sangat fluktuatif dan mengejutkan para investor. Pada pembukaan perdagangan, indeks sebenarnya sempat menguat ke level 5.305,20 dan bahkan sempat menyentuh titik tertinggi di angka 5.320,90. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Hanya dalam waktu satu jam pertama, arah pasar berbalik arah secara drastis. IHSG langsung merosot tajam hingga menembus level psikologis 5.200 sebelum pukul 10.00 WIB.

Pasar Saham Anjlok Drastis Hari Ini
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Memasuki sesi siang, pergerakan indeks sempat terlihat stagnan atau mendatar di rentang 5.140 hingga 5.180. Namun, tekanan jual kembali menguat pada pukul 14.00 WIB, yang membawa indeks ke titik terendah harian di level 5.118,28. Saat penutupan, IHSG terpantau berada di level 5.121,97, sebuah penurunan sebesar 160,34 poin dari posisi sebelumnya.

Berdasarkan data dari Refinitiv, kejatuhan ini dipicu oleh aksi jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar (blue chip). Beberapa saham yang menjadi beban utama pasar antara lain PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Astra International Tbk. (ASII), serta PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN). Di sisi lain, terdapat beberapa saham yang mampu menahan laju koreksi, seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY), PT Temas Tbk. (TMAS), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS), dan PT Bali Towerindo Sentra Tbk. (BALI).

Secara keseluruhan, aktivitas perdagangan hari ini mencatatkan volume transaksi sebesar 173,2 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp7.397,56 miliar.

Anjloknya pasar ini tidak lepas dari sentimen global yang sangat dinamis. Salah satu faktor utamanya adalah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75%-4,00%. Meski tetap, keputusan ini tidak bulat karena adanya perbedaan pandangan di internal bank sentral AS tersebut. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter ke depan, terutama potensi kenaikan suku bunga pada Desember mendatang, membuat investor cenderung bersikap waspada (wait and see).

Selain itu, pasar kini tengah menanti rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang menjadi indikator utama inflasi di sana. Data ini sangat krusial karena akan menentukan langkah The Fed selanjutnya. Selain faktor AS, ketegangan geopolitik terkait konflik di Timur Tengah juga turut memberikan tekanan pada harga energi dan stabilitas pasar keuangan global.

Kondisi ini diperparah dengan adanya perhatian pasar terhadap keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB). Kombinasi antara ketidakpastian kebijakan moneter di AS dan Eropa, serta fluktuasi imbal hasil obligasi pemerintah (SBN), membuat investor lebih memilih untuk menarik diri dari aset berisiko, yang akhirnya memicu aksi jual masif di pasar saham domestik.

Related Post