Ambisi Besar BI Dorong Transaksi Mata Uang Lokal

Author Image

Endang Wulansari

28 Oktober 2026, 06:33 WIB

Jabarpos.id – Bank Indonesia (BI) tengah memacu langkah strategis untuk memperkuat posisi mata uang domestik dalam kancah perdagangan internasional. Dalam sebuah proyeksi optimis, bank sentral memprediksi bahwa nilai transaksi perdagangan dan investasi yang menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) akan melonjak tajam hingga mencapai angka USD 55 miliar pada akhir tahun 2026 mendatang.

Angka proyeksi ini menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat signifikan. Jika dibandingkan dengan realisasi sepanjang tahun 2025 yang tercatat berada di kisaran USD 25 miliar, maka target pada tahun 2026 tersebut mencerminkan kenaikan lebih dari dua kali lipat. Lonjakan ini menjadi sinyal kuat bahwa ketergantungan terhadap mata uang utama dunia, khususnya Dollar AS, mulai menunjukkan pergeseran arah yang positif di kawasan regional.

Ambisi Besar BI Dorong Transaksi Mata Uang Lokal
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Langkah penguatan LCT ini bukan tanpa alasan. Bank Indonesia melihat adanya peluang besar untuk menciptakan stabilitas nilai tukar rupiah melalui diversifikasi mata uang dalam transaksi lintas negara. Dengan menggunakan mata uang lokal dalam kerja sama perdagangan dengan negara-negara mitra, risiko volatilitas yang disebabkan oleh fluktuasi Dollar AS dapat diminimalisir secara efektif. Hal ini diharapkan mampu memberikan perlindungan lebih bagi para pelaku usaha, baik eksportir maupun importir, dari guncangan pasar keuangan global.

Dalam diskusi yang berlangsung di program Power Lunch pada Selasa (27/10/2026), terungkap bahwa strategi ini merupakan bagian dari upaya besar Indonesia untuk memperkuat integrasi ekonomi di kawasan Asia. Melalui skema LCT, Indonesia tidak hanya memperluas jangkauan perdagangannya, tetapi juga mempererat hubungan ekonomi dengan mitra strategis melalui penggunaan mata uang masing-masing negara secara langsung.

Peningkatan volume transaksi ini juga diprediksi akan memberikan dampak domino terhadap cadangan devisa negara. Semakin tinggi penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional, maka tekanan terhadap permintaan Dollar AS akan semakin berkurang. Kondisi ini secara otomatis akan membantu Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah agar tetap kompetitif namun tetap terkendali.

Para pelaku pasar dan investor kini menaruh perhatian besar pada peta jalan yang disusun oleh BI. Keberhasilan mencapai target USD 55 miliar pada 2026 akan menjadi bukti nyata bahwa kebijakan de-dolarisasi secara bertahap di tingkat regional dapat berjalan dengan sukses. Tantangan ke depan tentu terletak pada bagaimana memperluas jaringan kerja sama LCT dengan lebih banyak negara mitra dan memastikan infrastruktur sistem pembayaran antarnegara dapat terintegrasi dengan mulus.

Dengan komitmen yang kuat, Indonesia optimis dapat menjadi pemain kunci dalam ekosistem keuangan global yang lebih beragam dan tidak lagi terpaku pada satu mata uang tunggal. Transformasi ini diharapkan mampu menciptakan ketahanan ekonomi nasional yang lebih tangguh dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik dan ekonomi dunia di masa depan. Melansir laporan dari jabarpos.id, penguatan ini menjadi tonggak sejarah baru bagi kedaulatan moneter Indonesia.

Related Post