Skandal Taruhan Rahasia Militer AS

Author Image

Endang Wulansari

1 November 2026, 08:04 WIB

Jabarpos.id – Sebuah skandal besar mengguncang institusi militer Amerika Serikat setelah seorang tentara aktif diduga memanfaatkan informasi rahasia negara demi mengeruk keuntungan pribadi yang fantastis. Oknum prajurit tersebut dituding melakukan praktik insider trading atau perdagangan orang dalam melalui platform pasar prediksi digital, Polymarket, untuk mendapatkan uang hasil taruhan yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

Kasus ini mencuat setelah otoritas federal mengungkap keterlibatan Gannon Ken Van Dyke, seorang anggota militer yang bertugas di Fort Bragg, North Carolina. Van Dyke diduga menggunakan akses informasi sensitif terkait operasi militer Amerika Serikat di Venezuela untuk memasang taruhan pada hasil politik dan keamanan di negara tersebut. Informasi yang seharusnya dijaga ketat demi keamanan nasional ini justru dijadikan senjata untuk memperkaya diri sendiri.

Skandal Taruhan Rahasia Militer AS
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Berdasarkan laporan investigasi, Van Dyke diduga melakukan serangkaian taruhan strategis antara bulan Desember hingga Januari. Ia memasang sekitar 13 taruhan dengan total modal awal mencapai US$33.034. Fokus taruhannya sangat spesifik, yakni mengenai keberadaan pasukan AS di Venezuela serta prediksi mengenai jatuhnya kekuasaan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.

Hasilnya sangat mengejutkan. Berkat informasi "orang dalam" tersebut, Van Dyke berhasil meraup keuntungan bersih sebesar US$409.881 atau setara dengan Rp7,24 miliar. Setelah mendapatkan kemenangan besar tersebut, ia dilaporkan mencoba menyamarkan jejak finansialnya dengan memindahkan sebagian besar dana ke dalam brankas kripto di luar negeri, sebelum akhirnya dialirkan ke akun broker daring yang baru.

Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS, Todd Blanche, menegaskan bahwa tindakan ini merupakan pengkhianatan terhadap kepercayaan negara. Menurutnya, personel militer diberikan akses ke informasi rahasia bukan untuk kepentingan finansial, melainkan demi keberhasilan misi dan keamanan nasional. Meskipun pasar prediksi merupakan fenomena baru di dunia keuangan, Blanche mengingatkan bahwa hukum federal mengenai perlindungan informasi keamanan nasional tetap berlaku mutlak.

Pihak Polymarket sendiri menyatakan telah bekerja sama sepenuhnya dengan Departemen Kehakiman AS dalam penyelidikan ini. Platform tersebut mengaku telah mengidentifikasi adanya aktivitas perdagangan tidak wajar yang berkaitan dengan kontrak politik Maduro, yang kemudian dilaporkan kepada pihak berwenang.

Kini, Van Dyke harus menghadapi konsekuensi hukum yang sangat berat. Ia didakwa dengan tiga tuduhan pelanggaran Commodity Exchange Act, satu tuduhan penipuan melalui transmisi elektronik (wire fraud), serta satu tuduhan transaksi moneter ilegal. Setiap dakwaan tersebut membawa ancaman hukuman penjara yang sangat serius, yakni antara 10 hingga 20 tahun.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi dunia internasional mengenai kerentanan pasar prediksi digital terhadap penyalahgunaan informasi intelijen. Hingga berita ini diturunkan, pihak Pentagon maupun Angkatan Darat AS masih enggan memberikan komentar lebih lanjut terkait status kepegawaian Van Dyke.

Related Post