Jabarpos.id – Industri furnitur dalam negeri kini tengah berada di ambang peluang emas untuk merambah pasar internasional. Di tengah upaya pemerintah yang gencar mendorong ekspansi bisnis mebel lokal, sebuah merek furnitur berbahan besi, Importa, muncul sebagai pemain yang siap menantang dominasi produk impor. Dengan mengandalkan kombinasi antara desain yang modis dan ketahanan material, bisnis ini mencoba membuktikan bahwa produk lokal mampu bersaing di kancah global.
Nizar Bawazier, selaku Founder sekaligus CEO Importa, mengungkapkan bahwa kunci utama dalam memenangkan persaingan bisnis di era modern ini adalah inovasi yang tiada henti. Menurutnya, perusahaan tidak bisa hanya terpaku pada satu jenis produk saja jika ingin bertahan dan berkembang. Fokus utama mereka saat ini adalah memperkuat cengkeraman di pasar domestik sembari secara perlahan melirik potensi besar di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).
Perjalanan Importa dimulai dari lini produk yang cukup spesifik, yakni lemari pakaian berbahan besi. Namun, seiring dengan meningkatnya permintaan konsumen akan furnitur yang lebih variatif, perusahaan melakukan ekspansi besar-besaran. Kini, katalog produk mereka telah berkembang luas, mencakup kebutuhan perlengkapan dapur (kitchen set) hingga perlengkapan ruang makan (dining set). Menariknya, meskipun menawarkan desain yang stylish dan fungsional, Importa tetap berkomitmen menjaga harga agar tetap terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat.
Also Read
Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap dinamika ekonomi yang sering kali tidak menentu. Di tengah fluktuasi daya beli masyarakat, menyediakan produk yang berkualitas namun tetap ekonomis menjadi strategi jitu untuk menjaga loyalitas pelanggan. Ketahanan atau durability menjadi nilai jual utama, mengingat material besi menawarkan usia pakai yang lebih lama dibandingkan material kayu atau plastik konvensional.
Namun, perjalanan menuju pasar global tentu bukan tanpa hambatan. Tantangan seperti standarisasi kualitas internasional, logistik, hingga persaingan harga dengan produk manufaktur massal dari negara lain menjadi ujian nyata bagi pelaku industri lokal. Nizar menekankan bahwa untuk menembus pasar ekspor, produk tidak hanya harus kuat, tetapi juga harus memiliki nilai estetika yang sesuai dengan selera pasar mancanegara.
Melalui diskusi mendalam yang sempat diangkat dalam program Closing Bell di jabarpos.id, terlihat jelas bahwa masa depan industri furnitur besi lokal sangat bergantung pada kemampuan adaptasi terhadap tren desain dan efisiensi produksi. Dengan dukungan kebijakan pemerintah yang pro-ekspor, diharapkan merek-merek seperti Importa dapat menjadi ujung tombak ekonomi kreatif Indonesia di mata dunia. Persaingan harga dan daya tahan produk diprediksi akan tetap menjadi dua faktor penentu utama dalam memenangkan hati konsumen, baik di dalam negeri maupun di pasar global.






