Antusiasme warga Indonesia terhadap emas tengah mencapai puncaknya. Jabarpos.id melaporkan lonjakan permintaan emas yang signifikan beberapa waktu terakhir, ditandai dengan antrean panjang di berbagai gerai penjualan emas. Fenomena ini memicu pertanyaan: Apakah ini murni investasi cerdas atau sekadar euforia sesaat?
Betty Regina Simarmata, Kepala Departemen Pemasaran dan CSR Galeri 24, memberikan pandangannya. Menurutnya, antrean panjang tersebut merefleksikan kekhawatiran kolektif masyarakat terhadap kondisi ekonomi. Data penjualan Galeri 24 periode 8-13 April 2025 menunjukkan angka yang fantastis: 255,3 kilogram emas batangan dan 6,6 kilogram perhiasan emas terjual. Meskipun permintaan membludak, Galeri 24 memastikan stok mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Peningkatan signifikan terlihat setelah libur Lebaran. Salah satu pegawai Galeri 24 Salemba, Heru, mengungkapkan peningkatan pengunjung hingga 50% dalam 10 hari setelah Lebaran. Salah satu pembeli, Edwin, menyebutnya sebagai "panic buying". Ia sendiri telah berinvestasi emas sejak 2019 dan merasakan keuntungan besar dari kenaikan harga emas yang signifikan. Edwin menekankan investasi emas yang ideal adalah jangka panjang untuk memaksimalkan keuntungan.
Lonjakan permintaan ini sejalan dengan rekor harga emas dunia yang terus menanjak. Pada 16 April 2025, harga emas dunia mencapai titik tertinggi sepanjang masa (ATH) mendekati US$3.300/troy ons, melewati rekor sebelumnya di angka US$3.236/troy ons pada 11 April 2025.
Proyeksi Goldman Sachs (GS) bahkan lebih optimis. Mereka menaikkan prediksi harga emas akhir tahun 2025 menjadi US$3.700 per ons troy, dari sebelumnya US$3.300, dengan potensi mencapai US$3.880 per ons troy jika resesi terjadi. Peningkatan permintaan dari bank sentral dan arus masuk dana ke exchange-traded fund (ETF) menjadi pendorong utama. Fenomena ini menjadi sorotan dan menarik perhatian banyak pihak.





