Beranda / Berita / 6 Kebiasaan Ini Jauhkanmu dari Kekayaan

6 Kebiasaan Ini Jauhkanmu dari Kekayaan

6 Kebiasaan Ini Jauhkanmu dari Kekayaan

Mengapa sebagian orang merasa sulit untuk menembus batas kekayaan, sementara yang lain berhasil mencapai status jutawan? Sebuah laporan yang dilansir jabarpos.id baru-baru ini menyoroti bahwa kunci utamanya bukan hanya pada seberapa banyak uang yang dihasilkan, melainkan pada kebiasaan pengeluaran yang seringkali tanpa disadari menghambat seseorang naik kelas ekonomi.

Pandangan ini diperkuat oleh Tom Corley, seorang akuntan sekaligus penulis buku ternama, yang menghabiskan lima tahun intensif mewawancarai 233 individu berstatus jutawan. Dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam, para miliarder ini rata-rata memiliki pendapatan kotor tahunan mencapai US$ 160.000 atau sekitar Rp 2,4 miliar. Corley mengungkapkan, meskipun ia tertarik pada cara mereka membelanjakan uang, hampir semua responden sepakat bahwa faktor terbesar yang berkontribusi pada kekayaan mereka adalah keputusan untuk berhenti membuang-buang uang pada hal-hal tertentu.

6 Kebiasaan Ini Jauhkanmu dari Kekayaan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Berikut adalah 6 kebiasaan belanja yang dihindari para jutawan:

  1. Makanan Olahan dan Kemasan Berkualitas Rendah: Prioritas utama para jutawan adalah kesehatan. Mereka secara konsisten menghindari pembelian makanan olahan dan kemasan yang rendah kualitas, beralih ke pilihan organik atau produk sehat yang bebas pengawet. Corley mencatat, mereka cenderung mencari produk langsung dari sumbernya, sering mengunjungi pasar petani atau toko bahan makanan yang dikenal dengan kualitas tinggi untuk buah, sayur, dan daging.

  2. Produk Murah dan Cepat Rusak: Para miliarder tidak tertarik pada tren fesyen sesaat atau furnitur yang dibuat asal-asalan. Sebaliknya, mereka memilih untuk berinvestasi pada barang-barang berkualitas tinggi dan tahan lama. Meskipun biaya awalnya bisa dua hingga tiga kali lipat lebih mahal, keputusan ini dianggap lebih ekonomis dalam jangka panjang. Mereka berpandangan, membeli barang berkualitas sekali jauh lebih hemat daripada harus terus-menerus mengganti barang murah yang mudah rusak.

  3. Perbaikan Besar pada Properti dan Kendaraan: Ketika dihadapkan pada pilihan, banyak orang kaya lebih memilih untuk mengganti sepenuhnya barang-barang seperti atap, mesin cuci, kulkas, tungku, bahkan kendaraan, daripada mengalokasikan dana untuk perbaikan besar. Rasionalisasinya jelas: meskipun membeli baru seringkali lebih mahal, barang baru menawarkan ketahanan yang jauh lebih lama dan memberikan ketenangan pikiran yang tak ternilai harganya, menghindari siklus perbaikan berulang.

  4. Peralatan Kebersihan dan Perawatan Taman: Berbeda dengan kebanyakan orang yang memilih melakukan pekerjaan taman sendiri, para jutawan cenderung menyewa jasa profesional untuk perawatan properti mereka. Ini berarti mereka tidak lagi perlu mengeluarkan uang untuk membeli, memperbaiki, atau mengganti peralatan taman. Bagi mereka, yang dibeli bukanlah jasa, melainkan waktu. Dengan mendelegasikan tugas-tugas ini, mereka mendapatkan lebih banyak waktu luang untuk beristirahat, bersantai, atau terlibat dalam aktivitas rekreasi yang lebih berarti.

  5. Tiket Lotre dan Perjudian: Sejak awal membangun kekayaan, banyak miliarder telah menghindari segala bentuk perjudian, dan kebiasaan ini terus berlanjut setelah mereka mencapai status kaya. Corley mencatat, mereka menolak menghabiskan uang untuk tiket lotre dan bahkan menganjurkan karyawan serta kerabat untuk melakukan hal yang sama. Mereka memandang peluang memenangkan lotre atau judi sangat tipis, menjadikannya sebagai pemborosan uang yang lebih baik dialokasikan untuk investasi atau hal-hal yang lebih produktif.

  6. Pembelian Impulsif: Salah satu ciri khas orang kaya adalah kemampuan luar biasa dalam mengendalikan nafsu belanja. Bukan berarti mereka tidak menikmati kemewahan, namun setiap pembelian dilakukan dengan pertimbangan matang. Filosofi ini sejalan dengan nasihat Warren Buffett yang terkenal: "Jika kamu membeli barang secara impulsif, dalam waktu dekat barang-barang itu akan menjadi tidak berguna." Oleh karena itu, para jutawan selalu berpikir panjang sebelum memutuskan untuk mengeluarkan uang, memastikan setiap pengeluaran memiliki nilai dan tujuan yang jelas.

Baca juga:  Suku Bunga Kredit Tak Kunjung Turun? Ini Kata Bankir!

Dari keenam poin di atas, jelas terlihat bahwa pola pikir dan kebiasaan belanja para jutawan sangat berbeda dengan kelas menengah. Mereka tidak hanya fokus pada akumulasi pendapatan, tetapi juga pada pengelolaan pengeluaran yang strategis, investasi pada nilai jangka panjang, dan prioritas pada kesehatan serta waktu. Mengubah kebiasaan-kebiasaan ini mungkin menjadi langkah awal yang krusial bagi siapa pun yang bercita-cita untuk menembus batas kekayaan.