Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup tahun 2025 dengan performa yang membanggakan, berhasil bertengger di level 8.646 poin. Pencapaian ini menandai penguatan signifikan sebesar 22,13% secara year to date, didorong oleh kinerja positif sejumlah saham konglomerat yang menjadi motor penggerak bursa. Namun, sorotan kini beralih ke tahun 2026, di mana pergerakan pasar saham Indonesia diprediksi akan diwarnai oleh berbagai sentimen krusial. Menurut laporan jabarpos.id, para ahli pasar mulai mengurai potensi tantangan dan peluang yang akan dihadapi.
Tahun 2026 diperkirakan akan menjadi periode yang penuh dinamika. Sejumlah sentimen global dan domestik siap membentuk lanskap ekonomi dan pasar keuangan Tanah Air. Kebijakan suku bunga, baik di tingkat global maupun domestik, akan menjadi faktor penentu. Selain itu, potensi perang dagang yang terus membayangi serta gejolak pasar keuangan global yang tak terduga, diproyeksikan akan memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi dunia, yang pada gilirannya akan mempengaruhi daya beli masyarakat serta laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Rangkaian katalis eksternal dan internal inilah yang pada akhirnya akan menjadi penentu arah pergerakan pasar keuangan RI, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah.

Lalu, bagaimana sebenarnya proyeksi pergerakan ekonomi dan pasar keuangan Indonesia di tengah badai sentimen tersebut? Analisis mendalam mengenai potensi pergerakan ini telah diulas tuntas dalam sebuah dialog eksklusif. Syarifah Rahma dari CNBC Indonesia berkesempatan mewawancarai Equity Analyst CNBC Indonesia, Gelson Kurniawan, dalam program Power Lunch yang tayang pada Rabu, 31 Desember 2025. Diskusi tersebut mengupas tuntas berbagai skenario yang mungkin terjadi, memberikan panduan berharga bagi investor dan pelaku pasar untuk mengantisipasi tahun yang akan datang.




