Beranda / Berita / IHSG Penuh Drama Ini Penyebabnya

IHSG Penuh Drama Ini Penyebabnya

IHSG Penuh Drama Ini Penyebabnya

Pasar saham Indonesia kembali menjadi sorotan utama hari ini, Selasa (13/1/2025), dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menunjukkan volatilitas ekstrem sepanjang sesi perdagangan. Setelah sempat tertekan hebat pada hari sebelumnya, pergerakan indeks hari ini diwarnai pemangkasan apresiasi yang signifikan dalam hitungan menit. Namun, di penghujung hari, IHSG berhasil bangkit dan ditutup menguat. Demikian dilaporkan jabarpos.id.

Drama pergerakan IHSG dimulai sejak pagi, saat indeks dibuka dengan kenaikan 0,67% ke level 8.944,46. Namun, euforia tersebut tak bertahan lama. Apresiasi lebih dari 1% lenyap dalam sekejap, dan pada awal sesi kedua, indeks sempat anjlok ke level 8.841,02. Meski demikian, kekuatan beli kembali muncul di akhir sesi, mendorong IHSG melesat 0,72% atau 63,58 poin, menutup perdagangan di level 8.948,30.

IHSG Penuh Drama Ini Penyebabnya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Total nilai transaksi hari ini tergolong sangat ramai, mencapai Rp 33,43 triliun, melibatkan 62,87 miliar saham dalam 3,80 juta kali transaksi. Sebanyak 348 saham berhasil naik, sementara 327 saham melemah, dan 131 saham tidak bergerak.

Baca juga:  Rahasia Cuan Miliaran dari Modal 30 Juta?

M. Nafan Aji Gusta, Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, menjelaskan bahwa gejolak pasar saham Tanah Air tak lepas dari pengaruh sentimen geopolitik global. Para investor mencermati potensi campur tangan pemerintah Amerika Serikat terhadap independensi The Fed, yang bisa menekan kebijakan suku bunga acuan. Di sisi lain, data ekonomi AS yang dirilis pekan lalu, yang menunjukkan perlambatan pasar tenaga kerja, justru mendukung ekspektasi pelonggaran moneter The Fed yang kemungkinan besar dimulai pada kuartal II-2026.

"Situasi ini turut mendorong kenaikan harga emas dunia, di samping meningkatnya tensi geopolitik dan ekspektasi inflasi AS Desember 2025 yang semakin melandai," terang Nafan kepada jabarpos.id.

Baca juga:  Bank Mandiri Ganti Nakhoda? RUPSLB Jadi Penentu!

Dari ranah domestik, Nafan menambahkan, sentimen pasar juga berasal dari strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi dan meningkatkan efisiensi produksi nasional. Hal ini terlihat dari peresmian peningkatan kapasitas Kilang Balikpapan senilai US$ 7,4 miliar, yang diharapkan mampu mendongkrak output bahan bakar dan petrokimia domestik, sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

Namun, tidak semua saham bernasib baik. Saham-saham konglomerat, khususnya Grup Bakrie, tercatat menjadi beban utama indeks hari ini. Saham Bumi Resources (BUMI) dan Bumi Resources Minerals (BRMS) terkoreksi lebih dari 5%, sementara Darma Henwa (DEWA) ambruk lebih dari 10%. Secara kumulatif, ketiga saham ini menyumbang koreksi 22,53 indeks poin. Sektor konsumer non-primer dan industri juga mencatat pelemahan.

Baca juga:  Pengamat Ekonomi Politik Faisal Basri Meninggal Dunia

Sebaliknya, sektor properti dan infrastruktur menjadi penopang utama penguatan IHSG, dengan kenaikan paling signifikan. Saham-saham seperti ASII, TLKM, MBMA, BREN, dan MDKA turut berkontribusi positif dalam mengangkat indeks.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menduga volatilitas pada saham-saham tertentu, termasuk Grup Bakrie dan Barito, berkaitan dengan ancaman tarif 25% kepada negara yang berhubungan dagang dengan Iran. "Saham-saham tersebut memang cenderung spekulatif dan tidak mencerminkan valuasi realistis. Ada kemungkinan volatilitas ini berkaitan dengan ancaman tarif tersebut, mungkin ada paparan atau tidak. Karena ketidakpastian ini, saham-saham kedua grup menjadi sangat volatil," jelas Lukman.

Pergerakan IHSG hari ini menjadi cerminan kompleksnya faktor-faktor yang memengaruhi pasar modal, mulai dari dinamika geopolitik global hingga kebijakan energi domestik dan sentimen spekulatif pada saham-saham tertentu.