Jabarpos.id – Ketegangan geopolitik yang memanas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kekhawatiran global. Gangguan rantai pasok akibat konflik ini mendorong harga minyak dunia menembus angka USD 100 per barel, menjadi momok menakutkan bagi perekonomian Indonesia.
Selain faktor eksternal, sentimen negatif juga datang dari dalam negeri. Penilaian lembaga pemeringkat global MSCI terkait bobot saham Indonesia di indeks global, serta pemangkasan outlook utang Indonesia menjadi negatif oleh Fitch Ratings, menambah tekanan pada pasar modal.

Imbasnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (9/3) lalu, anjlok lebih dari 5% hingga menyentuh level terendah di 7.156. Rupiah pun tak luput dari tekanan, melemah hingga Rp 16.990 per Dolar AS. Jabarpos.id mencatat, kondisi ini memicu pertanyaan besar tentang ketahanan pasar keuangan Indonesia.
Analis pasar keuangan Jabarpos.id memperkirakan, jika harga minyak terus meroket, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi mengalami defisit yang lebih dalam. Pemerintah perlu mengambil langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak global.




