JABARPOS.ID – Harga minyak dunia kembali menggila, menembus angka US$101 per barel di tengah tensi geopolitik yang membara di Timur Tengah. Data Refinitiv menunjukkan harga minyak Brent pada perdagangan Jumat (13/3/2026) pukul 10.00 WIB mencapai US$101,16 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$96,34 per barel.
Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia, terutama ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Meskipun Amerika Serikat sempat mengeluarkan lisensi sementara bagi negara-negara untuk membeli minyak Rusia, langkah ini hanya memberikan jeda singkat bagi pasar.

Analis Haitong Futures, Yang An, menilai bahwa stabilitas pasar energi global sangat bergantung pada kembalinya jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Pemerintah Amerika Serikat juga telah mengumumkan pelepasan 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR), yang dikoordinasikan dengan negara-negara anggota International Energy Agency (IEA). Namun, sentimen pasar tetap tertekan oleh eskalasi militer di kawasan Teluk.
Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa negaranya akan terus melanjutkan perlawanan dan mempertahankan penutupan Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan ini memicu lonjakan harga minyak lebih dari 9% pada Kamis.
Situasi keamanan di kawasan juga semakin memburuk dengan adanya laporan serangan terhadap dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak. Seluruh pelabuhan ekspor minyak Irak menghentikan operasi, memperketat pasokan minyak dari kawasan Teluk.
Oman telah memindahkan seluruh kapal dari terminal ekspor minyak utama Mina Al Fahal sebagai langkah pencegahan. Sementara itu, Arab Saudi mulai mengalihkan rute tanker melalui pipa East-West menuju Laut Merah.
Pasar minyak global bergerak dalam volatilitas tinggi sepanjang Maret, mencerminkan sensitivitas pasar terhadap gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia.
Iran dilaporkan masih mengizinkan satu hingga dua tanker per hari melewati Selat Hormuz, terutama menuju China, sebagai strategi untuk menjaga aliran pendapatan minyak dan mempertahankan dukungan Beijing.





