Jabarpos.id – Harga emas dunia tampak tenang-tenang saja meski tensi antara Amerika Serikat-Israel dan Iran terus memanas dalam beberapa minggu terakhir. Padahal, lazimnya, emas menjadi incaran investor sebagai aset "safe haven" di tengah gejolak geopolitik.
Sempat melonjak usai serangan AS-Israel ke Teheran pada 28 Februari lalu, harga emas kemudian justru merosot lebih dari 6% pada 3 Maret. Kini, harganya relatif stabil di kisaran US$5.050 hingga US$5.200 per troy ounce.

Ross Norman, CEO Metals Daily, mengungkapkan bahwa penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor penekan harga emas. Kenaikan harga minyak akibat konflik juga berpotensi memperpanjang inflasi dan memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi.
Suku bunga tinggi membuat investor lebih tertarik pada aset yang memberikan imbal hasil seperti obligasi, ketimbang emas yang tidak menghasilkan bunga. "Pergerakan harga emas dan perak saat ini terlihat kurang bergairah, tetapi mungkin itu wajar setelah lonjakan besar yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir," ujar Norman.
Amer Halawi, kepala riset di Al Ramz, menambahkan bahwa konflik geopolitik kerap memicu aksi jual besar-besaran di awal. Saat tekanan likuiditas melanda pasar, investor cenderung melepas berbagai aset sebelum kembali berburu aset aman.
"Jika terjadi krisis likuiditas, hampir semua aset akan dijual sampai para pelaku pasar bisa memahami situasinya dan kembali memfokuskan investasi pada aset yang tepat," jelasnya.
Meski demikian, sejumlah bank investasi global tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang emas. JPMorgan Chase memprediksi harga emas bisa mencapai US$6.300 per troy ounce pada akhir 2026. Sementara Deutsche Bank mempertahankan proyeksi harga US$6.000 per troy ounce pada akhir tahun ini. Ketidakpastian geopolitik global, inflasi yang masih tinggi, serta ketegangan di Timur Tengah dinilai akan terus mendukung permintaan emas sebagai aset lindung nilai dalam jangka panjang.





