Jabarpos.id – Harga batu bara yang stabil di atas USD 135 per ton, di tengah konflik geopolitik yang memanas, ternyata tak sepenuhnya membawa angin segar bagi para emiten. Rencana pemerintah untuk memberlakukan bea keluar batu bara justru menjadi momok menakutkan. Lalu, siapa saja yang paling berpotensi merasakan dampaknya?
Kondisi harga komoditas energi dan mineral yang menguntungkan, seperti nikel dan emas, seolah tak mampu menutupi kekhawatiran para pelaku industri batu bara. Kebijakan baru ini dikhawatirkan akan menggerus keuntungan dan daya saing perusahaan di pasar global.

Lantas, emiten mana yang paling rentan terpukul oleh kebijakan ini? Temukan jawabannya dalam ulasan mendalam di program Closing Bell CNBC Indonesia pada Rabu, 1 April 2026. Jangan lewatkan analisis lengkapnya untuk mengetahui strategi apa yang perlu disiapkan para emiten dalam menghadapi tantangan ini.




