Beranda / Berita / UMKM Jadi Tumpuan Ekonomi, Bank Untung Gede?

UMKM Jadi Tumpuan Ekonomi, Bank Untung Gede?

JABARPOS.ID – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memegang peranan vital dalam menopang perekonomian Indonesia dan menyerap jutaan tenaga kerja. Dukungan pendanaan yang kuat menjadi kunci keberlanjutan usaha mereka.

UMKM bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan tulang punggung negara. Lebih dari 65,5 juta unit usaha UMKM berkontribusi lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menjadi lahan pekerjaan bagi mayoritas penduduk Indonesia.

UMKM Jadi Tumpuan Ekonomi, Bank Untung Gede?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Saat krisis 1998 menerjang, UMKM terbukti menjadi benteng yang menjaga ekonomi tetap bergerak ketika korporasi besar tumbang. Begitu pula saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020, UMKM menjadi penopang utama konsumsi domestik, meski dengan segala keterbatasan, berkat pemanfaatan teknologi informasi.

Peran besar UMKM dalam perekonomian nasional tentu bukan tanpa tantangan. UMKM membutuhkan akses permodalan untuk meningkatkan kapasitas dan memperluas bisnis. Di sinilah peran penting industri perbankan. Bank menjadi salah satu sumber pendanaan utama bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha mereka.

Pengamat Perbankan, Moch Amin Nurdin, menjelaskan bahwa bank berperan sebagai penyedia akses pembiayaan, meningkatkan literasi keuangan, serta mengakselerasi digitalisasi dan formalisasi UMKM agar dapat tumbuh dan naik kelas. Dengan fokus pada pembiayaan UMKM, bank akan mendapatkan manfaat berupa diversifikasi portofolio dan sumber pertumbuhan baru.

Baca juga:  BNI Buktikan Diri! Transformasi Bawa Hasil Fantastis

"Pembiayaan ini relatif aman selama dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, didukung analisis kelayakan usaha, profil risiko debitur, serta monitoring yang berkelanjutan," ujarnya kepada JABARPOS.ID, Jumat (17/4/2026).

UMKM yang ingin mendapatkan pendanaan dari bank harus memperhatikan sisi administrasi, seperti legalitas usaha, pencatatan keuangan yang baik, dan model bisnis yang berkelanjutan. Dari sisi bank, ada beberapa risiko yang bisa timbul saat menyalurkan pendanaan ke UMKM.

Misalnya, beban utang yang melebihi kapasitas usaha, ketidaksesuaian antara tujuan pembiayaan dan penggunaan dana. Risiko lainnya adalah fluktuasi pendapatan usaha yang dapat mempengaruhi kemampuan pembayaran serta risiko suku bunga atau perubahan kondisi ekonomi.

Salah satu bank yang aktif menyalurkan pembiayaan ke UMKM adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Sepanjang tahun lalu, BRI telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 178,78 triliun kepada sekitar 3,8 juta debitur UMKM. Sektor pertanian menjadi kontributor terbesar dengan nilai pembiayaan Rp 80,09 triliun atau setara 44,97% dari total KUR yang disalurkan.

Baca juga:  Misteri Transaksi Raksasa Saham Hermina, Siapa Dalangnya?

Amin menyebut, BRI telah memiliki rekam jejak dan pengalaman yang panjang dalam menangani segmen UMKM. BRI pun pernah menjadi tempat belajar bagi bank-bank dari luar negeri yang hendak melakukan benchmarking terkait pengelolaan pembiayaan UMKM. Peran UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional membuat BRI terus menyusun strategi penyaluran dana yang konsisten dan terarah ke segmen tersebut.

"Secara bisnis, pendekatan ini juga terbukti menjadi sumber pertumbuhan yang kuat. Tercermin dari dominasi penyaluran kredit ke UMKM yang mencapai sekitar 80% dari total portofolio, dengan risiko yang terjaga dengan baik, di mana rata-rata NPL (non-performing loan) masih di bawah NPL industri, sedangkan pencadangan yang dilakukan BRI di atas rata-rata industri untuk segmen tersebut," ungkap Amin.

Baca juga:  Para Pejabat Akan Membentuk Gugus Tugas Impor Baru Yang Terpisah Dari Kementerian Perdagangan

Pengamat Perbankan dari Universitas Bina Nusantara (BINUS), Doddy Ariefianto, menambahkan bahwa BRI telah berhasil menjadikan UMKM sebagai mesin pertumbuhan tanpa mengorbankan disiplin risiko. Keberhasilan BRI sangat ditentukan oleh kualitas underwriting, pemantauan arus kas debitur, dan ketahanan segmen mikro yang relatif rentan ketika siklus usaha melemah.

Doddy menjelaskan, BRI memiliki portofolio pembiayaan UMKM mencapai 77,5% bila berkaca dari laporan tahunan 2025, artinya perusahaan BRI pun sanggup mengelola risiko pembiayaan UMKM meskipun risikonya tidak kecil. Hal ini terlihat dari capaian gross NPL di level 3,29% dan net NPL di level 1,04% pada tahun lalu.

Keahlian dalam menilai dan memilah risiko segmen UMKM, serta kemampuan segmen ini bertahan dari gempuran berbagai krisis yang datang tetap memberikan optimisme terhadap bisnis perbankan yang fokus menggarap segmen UMKM.