JABARPOS.ID – Industri kemasan plastik tengah menghadapi badai kenaikan harga bahan baku yang signifikan akibat gangguan distribusi global dan lonjakan harga minyak. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memperparah situasi, membuat pelaku usaha harus memutar otak mencari solusi.
Direktur Utama PT Berlina Tbk (BRNA), Pujihasana Wijaya, mengungkapkan bahwa harga bahan baku plastik telah melonjak drastis, mencapai angka 40 hingga 100 persen. Kenaikan ini tentu menjadi pukulan berat bagi produsen kemasan plastik yang mengandalkan minyak bumi sebagai bahan baku utama.

Menghadapi tantangan ini, pelaku usaha kemasan plastik berharap pemerintah dapat membantu memperluas sumber impor resin plastik, tidak hanya dari China, tetapi juga dari negara lain seperti Amerika Serikat. Diversifikasi sumber impor diharapkan dapat menstabilkan pasokan dan menekan harga bahan baku.
Selain itu, efisiensi produksi internal menjadi kunci untuk mengatasi kenaikan biaya. Produsen terus berupaya melakukan inovasi produk dan meningkatkan efisiensi operasional untuk mengkompensasi kenaikan harga bahan baku dan menjaga kinerja perusahaan tetap stabil.
Strategi emiten plastik dalam menghadapi lonjakan harga bahan baku akibat perang menjadi topik hangat yang terus diperbincangkan. Bagaimana mereka bertahan dan beradaptasi di tengah gejolak ekonomi global?



