Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang sangat impresif pada perdagangan sesi pertama hari Selasa (6/10/2026). Bursa saham Indonesia mencatatkan lonjakan signifikan dengan kenaikan mencapai 1,26 persen, yang membawa posisi indeks ke level 6.196,09. Penguatan ini memberikan angin segar bagi para investor di tengah dinamika pasar global yang penuh ketidakpastian.
Perjalanan IHSG pada pagi hari dimulai dengan pembukaan di level 6.139,13. Sempat mengalami tekanan di awal perdagangan hingga menyentuh titik terendah intraday pada posisi 6.120,24, indeks secara perlahan mampu membalikkan keadaan. Tren positif terus berlanjut hingga indeks sempat menyentuh level tertinggi di angka 6.203,70 sebelum akhirnya bergerak stabil di zona hijau menjelang akhir sesi pertama.
Berdasarkan data aktivitas pasar, volume transaksi yang terjadi mencapai 286,1 juta lot. Adapun nilai transaksi yang berputar di bursa tercatat sangat masif, yakni menyentuh angka Rp5,62 triliun. Lonjakan ini didorong oleh dominasi sektor energi yang meroket hingga 3,08 persen. Tak ketinggalan, sektor teknologi juga memberikan kontribusi positif dengan kenaikan 2,1 persen, disusul oleh sektor industri yang tumbuh 1,6 persen.
Also Read
Beberapa emiten menjadi motor penggerak utama kenaikan indeks, di antaranya adalah PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), serta PT DCI Indonesia Tbk. (DCII). Di sisi lain, terdapat beberapa saham yang sempat menahan laju indeks, seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dan PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS).
Kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh sentimen global. Di kawasan Asia, melambatnya aktivitas jasa di Jepang menjadi perhatian serius. Sementara itu, di zona Euro, meskipun sektor jasa menguat, adanya tekanan inflasi dari kenaikan harga produsen memicu kekhawatiran terkait kebijakan moneter yang ketat. Investor juga tengah mencermati pidato Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda serta rilis data neraca perdagangan Amerika Serikat.
Kondisi pasar obligasi Amerika Serikat turut memberikan tekanan psikologis, di mana imbal hasil US Treasury tenor panjang melonjak ke level tertinggi dalam dua dekade terakhir. Lonjakan ini terjadi seiring dengan sikap hati-hati investor dalam menanti hasil rapat The Fed.
Sementara itu, dari sisi domestik, pasar modal Indonesia menunjukkan geliat yang kuat melalui antrean penawaran umum. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat terdapat 29 rencana penawaran umum dengan nilai indikatif mencapai Rp26,47 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia masih sangat mengandalkan pasar modal sebagai instrumen utama untuk memperkuat struktur pendanaan mereka. Hingga September 2026, total penghimpunan dana melalui penawaran umum telah menyentuh Rp186,03 triliun, mendekati target tahunan sebesar Rp250 triliun.






