Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang cukup impresif dengan lonjakan hingga 1 persen pada perdagangan terbaru. Kenaikan ini membawa angin segar bagi pasar keuangan domestik, di mana tekanan yang selama ini membayangi diharapkan mulai mereda seiring dengan membaiknya beberapa indikator ekonomi global.
Salah satu faktor utama yang mendorong optimisme pasar adalah pelemahan indeks dolar AS (DXY) dan imbal hasil (yield) US Treasury. Pada perdagangan Selasa (13/10/2026), indeks dolar AS terpantau turun 0,37 persen ke level 102,18, sebuah penurunan signifikan dari posisi tertingginya dalam 18 bulan terakhir. Di saat yang sama, yield US Treasury tenor 10 tahun juga menyusut sekitar 2,3 basis poin menjadi 5,217 persen.
Melemahnya dolar dan imbal hasil obligasi AS ini dipicu oleh penurunan harga minyak dunia serta berkurangnya tekanan jual di pasar obligasi. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, karena melemahnya dolar cenderung memicu aliran modal asing masuk ke pasar domestik, yang pada gilirannya dapat memperkuat nilai tukar rupiah.
Also Read
Namun, para pelaku pasar tetap diminta waspada. Meski ada tren positif, pasar diprediksi akan bergerak fluktuatif akibat banyaknya rilis data ekonomi penting yang dijadwalkan keluar hari ini. Salah satu yang paling dinantikan adalah data inflasi Amerika Serikat. Data ini akan menjadi kompas bagi Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan. Jika inflasi AS melonjak, ada risiko The Fed akan kembali menaikkan suku bunga.
Selain faktor Amerika Serikat, dinamika ekonomi dari China juga menjadi sorotan utama. Sebagai mitra dagang terbesar Indonesia, pergerakan ekonomi Tiongkok memiliki dampak langsung terhadap stabilitas ekonomi nasional. Pasar tengah menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) dan neraca perdagangan China untuk periode September 2026.
Jika data menunjukkan adanya kenaikan impor di China, hal tersebut menjadi sinyal baik bagi eksportir Indonesia karena menandakan meningkatnya permintaan barang dari Negeri Tirai Bambu tersebut. Sebagai catatan, ekspor China sebelumnya sempat melonjak tajam berkat masifnya pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence) secara global.
Di sisi lain, laporan terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan gambaran yang beragam mengenai ekonomi dunia. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan tumbuh 3,1 persen pada 2026, sedikit melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, IMF juga memberikan peringatan keras bagi negara-negara berkembang berpendapatan rendah. Lonjakan harga energi akibat ketegangan geopolitik di kawasan Iran dikhawatirkan akan menekan ruang fiskal negara-negara pengimpor minyak yang memiliki beban utang besar.
Dengan segala dinamika ini, investor diharapkan tetap jeli dalam membaca arah pasar, mengingat volatilitas yang tinggi akibat benturan antara sentimen positif dari pelemahan dolar dan ketidakpastian data inflasi global.






