Purbaya Tinggalkan Warisan Rp100 Triliun di BI, Ada Apa?

spot_img

jabarpos.id – Kementerian Keuangan di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana mengurangi secara signifikan dana pemerintah yang mengendap di Bank Indonesia (BI). Langkah ini diambil dengan tujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan anggaran negara dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp400 triliun pada pertengahan 2025, secara bertahap akan dikurangi hingga mencapai level ideal sekitar Rp100 triliun. Salah satu strategi yang diterapkan adalah memindahkan dana tersebut langsung ke bank-bank BUMN. Hingga 12 September 2025, tercatat dana yang telah dipindahkan mencapai Rp200 triliun.

Baca juga: 
Purbaya Tinggalkan Warisan Rp100 Triliun di BI, Ada Apa?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menurut Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu, pemerintah saat ini memiliki kemampuan untuk mengelola kas negara dengan lebih efisien. Hal ini didukung oleh pasar obligasi yang semakin likuid.

"Kita punya pasar SBN dan SPN yang sudah hidup. Jadi kalau kita tahu ini sudah hidup artinya liquid dan kompetitif, bunganya terus turun. Ini kan cukup menarik bagi pemerintah untuk tidak memegang cash terlalu banyak," ujar Febrio di Jakarta Pusat, Kamis (9/10/2025).

Baca juga:  Pemkot Bogor Raih Peringkat Kedua Tertinggi dalam Survei Penilaian Integritas KPK

Namun, Febrio menekankan bahwa pengurangan dana menganggur ini akan dilakukan dengan hati-hati dan terukur. Kementerian Keuangan akan terlebih dahulu mengkaji kebutuhan operasional rutin bulanan untuk memastikan ketersediaan kas yang sesuai dengan kebutuhan belanja.

"Nah, ini yang sedang kita siapkan, kalau memang kita nanti assess, oh ternyata kebutuhan sebulan sekian ratus triliun minimal itu, maka kita akan tetap bisa akses pasar kapanpun," ungkap Febrio.

Baca juga:  Sopir Bus Sigap Selamatkan Penumpang dari Kebakaran di Sukabumi

Pemerintah juga memastikan bahwa dana yang telah ditempatkan di bank tidak akan serta merta ditarik jika terjadi kebutuhan mendesak. Ke depannya, kebutuhan anggaran akan dipenuhi melalui penerbitan obligasi jika penerimaan negara tidak mencukupi.

Sebagai informasi tambahan, pemerintah telah menetapkan target penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) pada tahun 2026 sebesar Rp749,2 triliun. "Targetnya adalah Rp 749 triliun, bisa jadi lebih tinggi, bisa jadi lebih rendah. Yang jelas, kita masih kelola minggu demi minggu," pungkas Febrio.

spot_img

Berita Terpopuler

Risiko Menyedihkan Jika Tak Bayar Pinjol!

Sumber informasi dari jabarpos.id menyebutkan bahwa pinjaman online (pinjol) memang memudahkan akses keuangan, namun risiko gagal bayar (galbay) perlu dipahami masyarakat. Kegagalan...

Converse dan Swarosvski hadirkan siluet Chuck 70 De Luxe Squared

Jenama alas kaki Converse resmi berkolaborasi dengan jenama kristal Swarovski untuk menghadirkan siluet terbaru dari Converse Chuck 70 De Luxe Squared dengan 1.300 keping...

Mengerikan!!! Tahanan Narkoba Dibunuh di Rumah Tahanan Kelas 1 Depok

Depok | Jabar Pos - Kejadian tragis menimpa seorang tahanan berinisial RAJS (26), yang ditemukan meninggal dunia dengan sejumlah luka tusuk dan lebam di...

MacOS 15.1 Bakal Bikin Kamu Bebas Ngatur Aplikasi! 🤯

Pengguna Mac, bersiaplah untuk kejutan! Apple kabarnya sedang menyiapkan pembaruan macOS 15.1 yang bakal memberikan kamu kebebasan penuh dalam mengatur aplikasi. Bayangkan, kamu bisa...

Prabowo Berikan Pesan Untuk Cabup Cawabup Bogor Rudy Susmanto-Jaro Ade

Bogor | Jabar Pos - Presiden RI terpilih, Prabowo Subianto sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra, menyampaikan pesan untuk Pasangan Calon Bupati dan Calon Wakil...

Kia kenalkan K4 hatchback di Australia

Versi hatchback lima pintu dari Kia K4 sedan telah diungkapkan semalam, menjelang kedatangannya di Australia yang diperkirakan pada akhir tahun 2025. Foto pertama dari K4 versi hatchback terungkap dan...
Berita terbaru
Berita Terkait