Di tengah optimisme pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,11% (yoy) pada tahun 2025, sektor pertambangan justru menunjukkan gejala kontraksi sebesar 0,66%. Kondisi ini menjadi sorotan utama, terutama saat dunia dihadapkan pada berbagai gejolak global. jabarpos.id mencatat, bagaimana Indonesia merumuskan strategi untuk menjaga mesin pendapatan negara dari sektor krusial ini menjadi pembahasan mendalam.
Penurunan kinerja industri pertambangan ini tidak terlepas dari melambatnya permintaan komoditas global, anjloknya volume ekspor, serta penurunan produksi batu bara nasional. Fenomena ini menciptakan paradoks di mana sektor lain berkontribusi positif, namun pertambangan justru menjadi beban.

Menyoroti kondisi ini, Tenaga Ahli Profesional Sumber Kekayaan Alam LEMHANAS, Edi Permadi, mengungkapkan bahwa perkembangan sektor pertambangan Indonesia, mulai dari aspek perizinan hingga volume produksi mineral dan batu bara nasional, memerlukan perhatian serius.
Menurut Edi, kunci untuk memaksimalkan kinerja industri pertambangan adalah dengan mencapai keseimbangan antara kebijakan sektor pertambangan domestik dan dinamika perkembangan global. Gejolak geopolitik seperti perang di Timur Tengah, konflik Ukraina versus Rusia, hingga perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, semuanya menjadi faktor krusial yang harus dipertimbangkan. Tujuannya jelas: menjaga stabilitas pendapatan negara yang bersumber dari sektor pertambangan sekaligus memastikan keberlanjutan industri ini di masa depan.
Diskusi mendalam mengenai tantangan dan strategi sektor pertambangan ini sebelumnya tersaji dalam dialog antara Shafinaz Nachiar dan Edi Permadi di program Closing Bell, CNBC Indonesia, pada Senin, 18 Mei 2026.





