Beranda / Berita / Minyak Dunia di Ujung Tanduk

Minyak Dunia di Ujung Tanduk

Minyak Dunia di Ujung Tanduk

Harga minyak mentah global kembali menunjukkan kenaikan tipis pada perdagangan Kamis pagi, 21 Mei 2026, setelah sempat anjlok tajam di awal pekan. Pasar kini terperangkap dalam pusaran ketidakpastian, bergulat antara harapan negosiasi damai dan bayangan ancaman gangguan pasokan global yang membayangi, demikian laporan jabarpos.id.

Kenaikan ini terjadi setelah dua hari perdagangan yang sangat volatil. Pada awal pekan, harga minyak merosot lebih dari 2% menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menunda rencana serangan terhadap Iran, memicu spekulasi meredanya ketegangan dan membuka ruang diplomasi. Namun, euforia tersebut tak bertahan lama. Minyak Brent kontrak Juli kini diperdagangkan di level US$105,92 per barel, menguat dari penutupan sebelumnya di US$105,02. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juni tercatat US$99,15 per barel, naik dari posisi US$98,26.

Baca juga:  Jabarpos.id, Jakarta - Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (ASPAKRINDO) terus menggencarkan upaya perlindungan investor di tengah geliat pasar kripto yang semakin dinamis. Ketua Umum ASPAKRINDO, Robby Bun, menyoroti krusialnya peran Organisasi Pengatur Mandiri (SRO) yang meliputi bursa, kliring, kustodi, dan pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Minyak Dunia di Ujung Tanduk
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Volatilitas ekstrem ini mencerminkan kegelisahan pasar yang mendalam terhadap situasi geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang terus memanas di kawasan Teluk, khususnya di sekitar Selat Hormuz, menjadi pemicu utama. Selat strategis ini merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Sekecil apa pun gangguan di titik ini, dampaknya langsung terasa sebagai lonjakan premi risiko energi secara global, memicu kekhawatiran akan kelangkaan pasokan.

Upaya diplomatik memang tengah berjalan, namun progresnya terbilang lambat. Iran dikabarkan telah menyampaikan proposal perdamaian baru melalui Pakistan. Di sisi lain, Washington, dalam upaya menjaga stabilitas pasokan global, memperpanjang pengecualian sanksi selama 30 hari bagi negara-negara yang masih membeli minyak Rusia melalui jalur laut. Meskipun demikian, kabar mengenai potensi kelonggaran sementara terhadap ekspor minyak Iran selama proses negosiasi, yang sempat beredar, langsung dibantah oleh pejabat AS, menambah kerumitan situasi dan menjaga ketegangan pasar.

Baca juga:  Innalillahi, Indonesia Kehilangan Tokoh Hebat!

Selain faktor geopolitik, menipisnya cadangan minyak strategis Amerika Serikat turut menopang harga. Data Departemen Energi AS menunjukkan Strategic Petroleum Reserve (SPR) anjlok 9,9 juta barel pekan lalu, menyisakan sekitar 374 juta barel – level terendah sejak Juli 2024. Penurunan drastis ini mengurangi bantalan pasokan AS di tengah ancaman disrupsi global. Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, bahkan memperingatkan bahwa stok minyak komersial global menipis dengan cepat, berpotensi hanya cukup untuk beberapa minggu jika konflik terus mengganggu pengiriman energi internasional.

Baca juga:  Headline: Terbongkar! 5 Perusahaan Indonesia 'Dicomot' Singapura, Siapa Saja?

Dengan demikian, pergerakan harga minyak dalam sepekan terakhir jelas menunjukkan bahwa pasar energi global kini sepenuhnya didikte oleh dinamika geopolitik. Dalam delapan hari perdagangan terakhir, Brent bergerak liar dari US$105,63 per barel pada 13 Mei, melonjak ke atas US$112, lalu kembali mendekati US$105. Pola serupa juga terlihat pada WTI, yang sempat naik dari kisaran US$101 menjadi lebih dari US$108 sebelum akhirnya kembali ke bawah US$100, menggambarkan betapa rapuhnya keseimbangan pasokan di tengah ketegangan yang belum mereda.