Misteri Dolar AS Rp17.000 Terungkap

Author Image

Endang Wulansari

30 Juli 2026, 00:04 WIB

Jakarta – Ekonom dari bank asing terkemuka mengungkapkan pandangan krusial mengenai pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bank DBS Indonesia memproyeksikan mata uang garuda akan bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS pada akhir tahun ini, sebuah angka yang menarik perhatian pasar. Informasi ini, sebagaimana dilansir jabarpos.id, bersumber dari Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, yang menekankan bahwa proyeksi tersebut dapat ditinjau ulang, bergantung pada arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Namun, Rao meyakini bahwa secara fundamental, rupiah tidak akan mengalami pelemahan tajam di bawah level Rp18.000. Menurutnya, sebagian besar ketidakpastian, baik dari faktor pertumbuhan global maupun kondisi domestik, telah tercermin dalam harga pasar saat ini. "Sebagian besar ketidakpastian, baik pertumbuhan maupun lokal, sudah tercermin dalam harga. Jadi, kita telah melihat sedikit penyesuaian terjadi," jelas Rao dalam sebuah forum diskusi di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Misteri Dolar AS Rp17.000 Terungkap
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Untuk memicu pelemahan signifikan pada rupiah, dibutuhkan setidaknya dua hingga tiga katalis negatif yang kuat. Saat ini, Rao mengidentifikasi satu-satunya potensi katalis negatif utama berasal dari faktor global, yakni kebijakan moneter The Fed yang masih menjadi misteri.

Terkait potensi kebangkitan rupiah menuju level Rp17.000, Rao menyoroti sentimen risiko global yang masih sangat tinggi. Ia mengamati bahwa investor asing saat ini cenderung menahan diri untuk berinvestasi di mana pun. Perbandingan investasi pun telah bergeser. "Jika mereka memutuskan untuk berinvestasi di, misalnya, Indonesia, atau mereka memutuskan untuk berinvestasi di Korea, perbandingannya bukan lagi antara negara-negara Asia dan negara-negara berkembang. Perbandingannya adalah antara negara-negara individual, negara berkembang, dan global," paparnya.

Pasalnya, dengan imbal hasil bebas risiko AS yang berada di kisaran 4,5%-4,6%, ada selisih sekitar 2%-2,5% dengan imbal hasil aset Indonesia. Rao mempertanyakan apakah selisih tersebut cukup menarik untuk mengompensasi risiko berinvestasi di Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Oleh karena itu, kembalinya rupiah ke level Rp17.000 per dolar AS sangat bergantung pada pergerakan nilai tukar mata uang greenback itu sendiri. Rao menegaskan bahwa dolar AS saat ini menguat terhadap hampir semua mata uang dunia. "Anda benar-benar membutuhkan reaksi yang sangat, sangat tajam pada dolar itu sendiri untuk membawa dolar-rupiah menuju Rp17.000," tegasnya. Ini mengindikasikan bahwa pelemahan dolar AS secara drastis di kancah global menjadi kunci utama.

Di sisi lain, Rao memberikan apresiasi terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan. Ia menilai keputusan BI untuk mengerek suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak 100 basis poin sepanjang tahun ini, ditambah dengan langkah-langkah non-suku bunga lainnya, telah berkontribusi positif. "Semua ini benar-benar berkontribusi pada stabilisasi pasar keuangan, pasar obligasi, jadi saya rasa resep tersebut sudah tepat," pungkas Rao, menggarisbawahi efektivitas strategi BI.

Related Post