IHSG Terperosok Tajam ke Zona Merah

Author Image

Endang Wulansari

25 September 2026, 04:04 WIB

Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan tren negatif pada perdagangan Kamis, 24 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan ke zona merah, menyentuh level 6.298,61. Jika dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di angka 6.374,91, indeks mengalami koreksi sebesar 76,31 poin atau merosot sekitar 1,20 persen.

Pergerakan pasar sejak pagi hari sebenarnya sudah menunjukkan sinyal pelemahan. IHSG dibuka pada level 6.364,98, sedikit di bawah angka penutupan hari sebelumnya. Meski sempat mencoba melakukan perlawanan dengan menyentuh level tertinggi di 6.368,57 pada awal sesi, namun momentum tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual yang masif justru mulai mendominasi pasar menjelang tengah hari dan terus berlanjut hingga penutupan sesi kedua.

IHSG Terperosok Tajam ke Zona Merah
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kondisi pasar yang tidak bersahabat ini terlihat dari dominasi saham-saham yang bergerak turun. Tercatat, hanya ada 198 saham yang berhasil menguat, sementara sebanyak 487 saham lainnya justru mengalami pelemahan. Sementara itu, 278 saham lainnya terpantau stagnan atau tidak mengalami perubahan harga.

Berdasarkan data transaksi yang dihimpun, aktivitas perdagangan hari ini tergolong sangat ramai. Volume perdagangan mencapai sekitar 25,3 miliar saham atau setara dengan 253 juta lot, dengan nilai transaksi mencapai Rp9,69 triliun. Angka ini menunjukkan lonjakan aktivitas yang cukup drastis, mencapai 145 persen dari rata-rata volume harian biasanya.

Ada beberapa faktor krusial yang diduga menjadi pemicu tekanan jual ini. Dari sisi domestik, investor masih dalam posisi waspada setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026. Keputusan BI untuk menahan suku bunga ini merupakan langkah ketiga berturut-turut sejak Juli 2026, setelah sebelumnya sempat melakukan kenaikan agresif pada periode Mei hingga Juni.

Namun, tantangan yang dihadapi pasar modal Indonesia tidak hanya datang dari dalam negeri. Sentimen global memberikan tekanan yang jauh lebih berat. Lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun yang menembus level tertinggi dalam hampir dua dekade menjadi "badai" bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kenaikan yield obligasi Amerika Serikat ini dipicu oleh kuatnya data ekonomi AS yang memicu kekhawatiran akan inflasi kembali naik.

Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga guna meredam inflasi. Bagi Indonesia, lonjakan yield global ini sangat berisiko karena dapat memicu kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan meningkatkan beban utang pemerintah. Selain itu, kunjungan diplomatik Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat juga menjadi sorotan yang menambah ketidakpastian di tengah fluktuasi pasar global saat ini.

Related Post