Jabarpos.id – Mata uang Garuda kembali menunjukkan performa yang kurang menggembirakan di pasar keuangan. Pada perdagangan Kamis (24/9/2026), nilai tukar rupiah mengalami koreksi yang cukup signifikan, memperpanjang tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan yang dialami rupiah bahkan sempat membawa mata uang hijau tersebut menyentuh level psikologis yang mengkhawatirkan sebelum akhirnya sedikit membaik di akhir sesi.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Refinitiv, rupiah resmi menutup perdagangan pada posisi Rp17.885 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,51 persen jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada hari Rabu yang berada di level Rp17.795 per dolar AS. Secara keseluruhan, rupiah kehilangan nilai sebesar 90 poin dalam satu hari perdagangan tersebut.
Gejolak nilai tukar sudah mulai terasa sejak bel pembukaan pasar berbunyi. Rupiah langsung dibuka dengan pelemahan sebesar 0,22 persen di posisi Rp17.835 per dolar AS. Tren negatif ini terus berlanjut sepanjang hari, bahkan sempat menyentuh titik terendah di level Rp17.900 per dolar AS sebelum akhirnya sedikit terkoreksi menjelang penutupan pasar.
Also Read
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi barometer kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau mengalami sedikit pelemahan tipis sebesar 0,03 persen ke posisi 101,061 pada pukul 15.00 WIB. Meski mengalami penurunan tipis, posisi indeks dolar masih tetap kokoh di atas level 101, menyusul lonjakan tajam sebesar 0,49 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
Kondisi ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang cukup kompleks. Dari kancah global, pasar sedang dilanda kecemasan terkait kemungkinan pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat. Kekhawatiran akan inflasi global yang belum stabil serta prospek fiskal di Negeri Paman Sam menjadi sentimen utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa perubahan ekspektasi suku bunga di Amerika Serikat menjadi faktor kunci. Menurutnya, ekspektasi pengetatan moneter AS di tengah ketidakpastian inflasi global dan pandangan fiskal Amerika turut memberikan tekanan berat bagi rupiah.
Dampaknya, imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun melonjak hingga ke level 5,11 persen, yang merupakan angka tertinggi sejak tahun 2007. Kenaikan imbal hasil ini membuat investor cenderung mengalihkan modal mereka kembali ke aset-aset keuangan AS, yang secara otomatis meningkatkan tekanan terhadap mata uang di pasar negara berkembang (emerging markets).
Selain faktor suku bunga, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga memberikan dampak domino. Konflik yang belum mereda memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dunia, yang kemudian mendorong harga minyak Brent melambung hingga menembus angka US$100 per barel.
Dari sisi domestik, rupiah juga harus menghadapi tantangan berupa meningkatnya permintaan valuta asing oleh para importir yang tengah bersiap menghadapi akhir kuartal III. Selain itu, adanya arus keluar dana portofolio dari pasar aset negara berkembang turut memperberat posisi rupiah.
Menanggapi situasi ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus melakukan intervensi di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap selaras dengan fundamental ekonomi nasional. BI akan memperkuat strategi operasi moneter yang lebih berorientasi pada mekanisme pasar (pro-market) untuk mengelola struktur suku bunga dan memastikan efektivitas stabilisasi nilai tukar. Langkah koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar juga terus ditingkatkan guna mendorong aliran modal asing masuk kembali ke dalam negeri.






