Misteri Aksi Borong Asing Saat IHSG Merosot

Author Image

Endang Wulansari

29 September 2026, 08:04 WIB

Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia kembali diguncang gelombang koreksi yang cukup tajam pada penutupan perdagangan Senin (28/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau terjun bebas dengan penurunan signifikan mencapai 1,51 persen. Kondisi ini membuat indeks kehilangan sekitar 94 poin dan berakhir di level 6.147,86. Penurunan ini seolah memberikan sinyal merah bagi para pelaku pasar yang tengah memantau stabilitas ekonomi nasional.

Berdasarkan data transaksi yang dihimpun, dominasi sentimen negatif terlihat jelas dari jumlah saham yang mengalami pelemahan. Tercatat sebanyak 532 emiten gagal mempertahankan posisinya dan bergerak di zona merah. Di sisi lain, hanya 180 saham yang mampu menunjukkan performa positif, sementara 81 saham lainnya bergerak stagnan tanpa perubahan harga yang berarti. Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan jual sedang mendominasi pergerakan pasar secara keseluruhan.

Misteri Aksi Borong Asing Saat IHSG Merosot
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Volume transaksi di bursa juga tergolong minim pada sesi perdagangan tersebut. Nilai transaksi hanya menyentuh angka Rp 12,58 triliun, sebuah angka yang dianggap cukup sepi untuk ukuran pasar saham Indonesia. Dari total nilai tersebut, terdapat sekitar 37,37 miliar lembar saham yang berpindah tangan melalui 1,66 juta kali transaksi. Minimnya likuiditas ini sering kali menjadi indikator bahwa investor cenderung bersikap wait and see di tengah ketidakpastian pasar.

Hal yang paling mencolok dalam perdagangan ini adalah aksi keluar masif dari investor asing. Para pemodal mancanegara mencatatkan penjualan bersih (net sell) yang sangat besar, yakni mencapai Rp 1,13 triliun. Jika dibedah lebih dalam, tekanan jual ini tersebar di beberapa mekanisme perdagangan. Di pasar reguler, investor asing melepas aset senilai Rp 259,83 miliar, sementara di pasar negosiasi dan tunai, angka penjualannya melonjak drastis hingga Rp 871,03 miliar.

Namun, di tengah badai penurunan IHSG tersebut, terdapat anomali yang menarik perhatian para pengamat pasar. Meski indeks secara keseluruhan anjlok, ternyata ada sejumlah saham yang justru menjadi incaran para investor asing. Fenomena "serok bawah" ini menunjukkan bahwa investor asing melihat adanya peluang pada saham-saham tertentu yang harganya dianggap sudah cukup murah atau memiliki fundamental yang kuat meskipun pasar sedang lesu.

Berdasarkan data dari platform Stockbit, terdapat 10 saham yang mencatatkan nilai beli bersih asing (net foreign buy) tertinggi di tengah tren penurunan ini. Aksi beli ini menjadi kontras yang tajam dibandingkan dengan arus keluar modal secara umum. Para pelaku pasar kini tengah mengamati apakah aksi borong pada 10 saham tersebut akan menjadi awal dari pembalikan arah tren (reversal) atau sekadar upaya jangka pendek untuk memanfaatkan momentum teknikal.

Para analis menyarankan agar investor tetap waspada dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Fluktuasi yang tinggi dan aksi jual asing yang masif memerlukan strategi manajemen risiko yang ketat. Fokus pada saham-saham yang tetap mampu bertahan di tengah tekanan indeks bisa menjadi salah satu strategi untuk menjaga portofolio tetap stabil di tengah kondisi pasar yang sedang tidak menentu.

Related Post