Jabarpos.id – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akhirnya memberikan penjelasan resmi terkait fenomena fluktuasi tajam yang melanda pergerakan harga saham mereka belakangan ini. Melalui surat tanggapan resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal Oktober 2026, manajemen perusahaan menegaskan bahwa guncangan harga tersebut murni disebabkan oleh faktor teknis pasar, bukan karena penurunan kinerja fundamental bisnis perusahaan.
Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan GOTO, R.A. Koesoemohadiani, memaparkan bahwa tekanan besar terhadap saham emiten teknologi ini bermula dari keputusan dua penyedia indeks global ternama, yakni FTSE dan MSCI. Berdasarkan tinjauan berkala, GOTO dinyatakan keluar dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Mid Cap Index per 22 Juni 2026. Hal ini disebabkan karena posisi saham GOTO yang berada di Papan Pengembangan BEI, sehingga dianggap tidak lagi memenuhi kriteria indeks tersebut.
Kondisi semakin menekan ketika pada 31 Agustus 2026, GOTO juga resmi dicoret dari MSCI Global Standard Indexes. Manajemen menjelaskan bahwa keputusan MSCI bersifat teknis semata. Rendahnya volume perdagangan menjadi pemicu utama, mengingat saham GOTO sempat tertahan di harga minimum atau floor price Rp50 per saham sejak Mei 2026.
Also Read
Dampak dari keluarnya GOTO dari kedua indeks bergengsi tersebut memicu efek domino. Investor institusi asing, khususnya pengelola dana pasif (passive funds) yang strategi investasinya wajib mengikuti indeks MSCI dan FTSE, terpaksa melakukan aksi jual besar-besaran untuk menyesuaikan portofolio mereka. Ironisnya, rendahnya likuiditas di pasar reguler sempat membuat dana-dana besar tersebut kesulitan untuk melepas kepemilikan mereka secara efisien.
Namun, dinamika pasar mulai berubah sejak diberlakukannya aturan baru oleh BEI pada 28 September 2026. Kebijakan penurunan batas bawah harga saham (floor price) dari Rp50 menjadi Rp1 per saham memberikan ruang baru bagi para pemegang saham yang selama ini mengantre untuk menjual. Hal inilah yang kemudian memicu fluktuasi harga yang cukup signifikan di pasar. Meski demikian, manajemen tetap optimis bahwa kondisi harga saat ini tidak mencerminkan kekuatan fundamental bisnis yang sebenarnya.
Sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas, GOTO mengungkapkan dua rencana aksi korporasi besar. Pertama, perusahaan menjalankan program pembelian kembali saham (buyback) dengan alokasi dana mencapai Rp3,5 triliun yang telah disetujui dalam RUPSLB. Kedua, perusahaan berencana melakukan pengurangan modal dengan menarik kembali saham tresuri.
Rencana pengurangan modal ini melibatkan sekitar 32 miliar saham Seri A hasil buyback periode sebelumnya. Jika rencana ini disetujui dalam RUPSLB mendatang, perusahaan akan beralih dari skema program kepemilikan saham karyawan (ESOP) ke skema pengurangan modal demi kepentingan seluruh pemegang saham di tengah kondisi pasar global yang menantang. Melalui langkah ini, GOTO berharap dapat memberikan nilai tambah bagi para investornya di masa depan.






