Jabarpos.id – Nama Sudono Salim, atau yang lebih dikenal dengan nama Liem Sioe Liong, pernah menjadi simbol absolut dari kekuatan ekonomi di Indonesia. Selama tiga dekade, ia bukan sekadar pengusaha, melainkan sosok konglomerat paling berpengaruh yang mampu menggerakkan roda ekonomi nasional. Keberhasilannya membangun imperium bisnis yang masif tidak lepas dari relasi strategisnya dengan Presiden Soeharto, sebuah hubungan yang telah terjalin sejak masa perjuangan kemerdekaan.
Hubungan ini bermula jauh sebelum Soeharto menduduki kursi kepresidenan. Salim, yang saat itu bergerak di bisnis impor cengkeh dan logistik militer, bertemu dengan Soeharto yang masih berpangkat Kolonel melalui perantara kerabat Soeharto. Seiring berjalannya waktu, kemitraan ini berubah menjadi simbiosis mutualisme yang sangat kuat. Soeharto memberikan perlindungan politik dan kemudahan akses bisnis, sementara Salim melalui Salim Group menyalurkan dukungan finansial yang signifikan bagi stabilitas kekuasaan saat itu.
Puncak kejayaan Salim terlihat dari dominasinya di tiga sektor vital: perbankan melalui Bank Central Asia (BCA), industri bangunan melalui Indocement, serta sektor pangan melalui Bogasari dan Indofood. Namun, kemegahan yang dibangun selama puluhan tahun itu runtuh dalam hitungan hari saat badai krisis ekonomi dan politik menghantam Indonesia pada Mei 1998.
Also Read
Krisis moneter yang melanda memicu ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan. Nasabah melakukan penarikan dana secara massal atau rush, yang membuat BCA berada di ambang kebangkrutan. Namun, yang lebih mengerikan adalah eskalasi kemarahan sosial yang berujung pada kerusuhan rasial. Kedekatan Salim dengan rezim Soeharto menjadikannya sasaran empuk amuk massa yang mencari kambing hitam atas krisis yang terjadi.
Pada kerusuhan 13 Mei 1998, Jakarta berubah menjadi lautan api. Massa yang terprovokasi menyasar aset-aset milik warga Tionghoa, dan Salim Group menjadi target utama. Saat kerusuhan memuncak, Sudono Salim sendiri sedang berada di Amerika Serikat untuk urusan kesehatan, meninggalkan putranya, Anthony Salim, untuk menghadapi situasi mencekam di Jakarta.
Anthony menceritakan betapa mengerikannya situasi saat itu. Rumah mewah keluarga Salim di kawasan Roxy diserbu oleh kelompok massa bersenjata. Alih-alih melakukan perlawanan yang bisa memicu pertumpahan darah, Anthony memilih membiarkan massa merusak rumah tersebut. Dalam sekejap, mobil-mobil mewah hangus terbakar, furnitur dihancurkan, dan rumah tersebut dijarah habis.
Dampak kerusakan tidak hanya berhenti di kediaman pribadi. Sektor bisnis Salim hancur lebur. BCA mengalami kerusakan parah di ratusan cabangnya, sementara pabrik Indofood di Solo luluh lantak akibat penjarahan dan pembakaran. Pukulan paling telak terjadi ketika pemerintah, melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), terpaksa mengambil alih BCA untuk menyelamatkan sistem perbankan nasional. Sejak saat itu, BCA resmi lepas dari genggaman keluarga Salim.
Setelah masa kelam tersebut, keluarga Salim harus berjuang dari titik nol untuk membangun kembali kejayaan mereka. Fokus utama mereka beralih pada Indofood sebagai penyambung napas ekonomi keluarga. Kini, lebih dari seperempat abad setelah peristiwa traumatis tersebut, imperium bisnis keluarga Salim kembali bangkit dan merambah berbagai sektor baru, membuktikan ketangguhan mereka dalam melewati badai sejarah yang paling kelam.






