Jabarpos.id – Kondisi finansial seseorang sering kali menjadi cermin dari posisi sosial mereka dalam struktur ekonomi masyarakat. Indikator ekonomi tidak hanya bicara soal angka di rekening bank, tetapi juga mencakup aspek yang lebih luas, mulai dari kualitas hunian hingga kemampuan seseorang dalam merencanakan masa depan melalui investasi.
Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa pemerintah terus berupaya menekan angka kemiskinan ekstrem di Indonesia hingga ke titik terendah. Fokus utama pemerintah saat ini memang terletak pada pengentasan kemiskinan serta upaya peningkatan standar hidup masyarakat secara menyeluruh. Namun, di luar angka statistik pemerintah, terdapat indikator keseharian yang dapat digunakan untuk melihat apakah seseorang berada di kelompok ekonomi bawah atau menengah bawah.
Melansir laporan dari GoBankingRates, terdapat lima parameter utama yang biasanya melekat pada kelompok masyarakat kelas bawah. Berikut adalah penjelasannya:
Also Read
1. Kualitas Tempat Tinggal Hunian merupakan salah satu komponen pengeluaran terbesar dalam anggaran rumah tangga. Kemampuan seseorang untuk memiliki tempat tinggal yang layak, aman, dan nyaman di lingkungan yang sehat menjadi pembeda yang nyata. Jika seseorang terus-menerus mengalami kesulitan untuk mendapatkan hunian yang memenuhi standar keamanan dan kenyamanan dasar, hal ini menjadi sinyal kuat bahwa mereka berada di lapisan ekonomi bawah.
2. Jenis Pekerjaan dan Keahlian Dunia kerja sering kali menjadi pembatas kelas sosial yang terlihat jelas. Pekerjaan yang bersifat manual atau membutuhkan keahlian rendah, seperti petugas kebersihan, pengemudi truk, staf ritel, hingga pekerja manufaktur, umumnya menempatkan seseorang pada kelas ekonomi bawah. Sebaliknya, posisi manajerial atau spesialis sering kali menjadi pintu masuk ke kelas menengah. Meski profesi seperti guru atau perawat sering dianggap stabil, posisi mereka bisa berfluktuasi antara kelas pekerja dan menengah, tergantung pada senioritas dan besaran pendapatan yang diterima.
3. Kemampuan Menabung dan Investasi Memiliki dana darurat dan rencana pensiun adalah bentuk kemewahan finansial yang tidak dimiliki semua orang. Bagi kelas menengah, menyisihkan uang untuk investasi adalah hal yang lumrah sebagai strategi membangun kekayaan. Namun, bagi kelompok kelas bawah, fokus utama sering kali habis hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, sehingga tidak ada ruang tersisa untuk membangun cadangan keuangan jangka panjang.
4. Pola Gaya Hidup Kebebasan untuk menikmati hidup, seperti berlibur setahun sekali atau makan di restoran tanpa rasa cemas akan saldo rekening, adalah indikator stabilitas finansial. Jika setiap pengeluaran kecil harus dihitung dengan sangat ketat karena keterbatasan anggaran, maka hal tersebut mencerminkan kondisi ekonomi yang rentan.
5. Akses terhadap Pendidikan Pendidikan tetap menjadi tangga utama untuk mobilitas vertikal. Kepemilikan gelar sarjana biasanya menjadi penanda seseorang telah memasuki kelas menengah. Sayangnya, hambatan sistemik sering kali membuat akses pendidikan tinggi menjadi sulit dijangkau oleh masyarakat kelas bawah, yang pada akhirnya menciptakan siklus ekonomi yang sulit diputus.






