Rupiah Menguat Saat Dolar AS Melandai

Author Image

Endang Wulansari

4 Oktober 2026, 06:04 WIB

Jabarpos.id – Mata uang rupiah menunjukkan performa positif pada pembukaan perdagangan Jumat (2/10/2026). Setelah sempat mengalami tekanan dan ditutup melemah pada sesi perdagangan sebelumnya, nilai tukar rupiah kini berhasil berbalik arah dan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah dibuka pada level Rp17.925 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penguatan sebesar 0,08% jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada Kamis (1/10/2026) yang berada di level Rp17.940 per dolar AS. Pergerakan ini memberikan sedikit napas lega bagi pasar keuangan domestik di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Rupiah Menguat Saat Dolar AS Melandai
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi tolok ukur kekuatan mata uang Amerika Serikat terhadap enam mata uang utama dunia lainnya, terpantau berada di posisi 102,107 pada pukul 09.00 WIB. Penurunan indeks dolar ini menjadi salah satu faktor pendukung yang memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak naik.

Namun, perjalanan rupiah hari ini diprediksi akan tetap penuh tantangan. Berbagai sentimen, baik dari dalam negeri maupun faktor eksternal, akan menjadi penentu arah pergerakan mata uang Garuda. Dari sisi domestik, pelaku pasar tengah mencermati dinamika politik terkait isu reshuffle kabinet. Selain itu, implementasi kebijakan short selling serta respons pasar terhadap data ekonomi terbaru seperti manufaktur, neraca perdagangan, dan angka inflasi juga menjadi fokus utama.

Kondisi pasar obligasi domestik turut memberikan sinyal penting. Imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat mengalami kenaikan sebesar 5,3 basis poin menjadi 7,159% pada perdagangan Kamis lalu, naik dari posisi sebelumnya di 7,106%. Kenaikan yield ini secara teknis mencerminkan adanya pelemahan pada harga SBN tenor 10 tahun di pasar.

Dari kancah internasional, tekanan besar datang dari lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury). Yield US Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh angka 5,34%, level tertinggi sejak tahun 2002, sebelum akhirnya sedikit melandai ke kisaran 5,26%. Tingginya imbal hasil di Amerika Serikat ini cenderung menarik investor untuk memindahkan modal mereka ke aset berbasis dolar, yang berisiko menekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain itu, pasar global tengah menanti rilis data ekonomi krusial dari Amerika Serikat, mulai dari klaim pengangguran, indeks manufaktur ISM, tingkat pengangguran, hingga data non-farm payrolls. Data-data ini sangat krusial untuk memprediksi arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) ke depan.

Ketegangan geopolitik juga menambah bumbu ketidakpastian. Konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dunia lebih dari US$4 per barel. Kekhawatiran akan gangguan pasokan global meningkat setelah adanya kabar pengiriman tambahan pasukan AS ke kawasan tersebut, ditambah kebijakan China yang menghentikan ekspor produk minyak ke luar Hong Kong dan Makau, serta larangan ekspor diesel oleh Rusia. Situasi ini membuat pasar sangat sensitif terhadap isu energi dan stabilitas ekonomi global.

Related Post