Jabarpos.id – Dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian terus memberikan dampak signifikan terhadap nilai kekayaan para taipan di tanah air. Memasuki bulan Oktober 2026, peta kekuatan ekonomi para miliarder Indonesia menunjukkan stabilitas yang menarik untuk disimak. Meski fluktuasi harga komoditas dan koreksi pasar saham sempat membayangi, posisi puncak daftar orang terkaya di Indonesia masih dipegang oleh sosok yang dijuluki sebagai "Raja Batu Bara".
Low Tuck Kwong, pendiri sekaligus pemilik PT Bayan Resources Tbk (BYAN), kembali mengukuhkan dominasinya di kasta tertinggi pengusaha nasional. Berdasarkan data terbaru, kekayaan pria kelahiran Singapura ini menyentuh angka fantastis sebesar US$16,4 miliar atau jika dikonversikan ke dalam rupiah mencapai Rp291,37 triliun. Kekuatan utama Low Tuck Kwong terletak pada sektor energi, di mana kendali atas perusahaan tambang batu baranya menjadi mesin uang utama yang tak tergoyahkan.
Menariknya, dominasi Low Tuck Kwong di BYAN semakin kuat setelah adanya aksi korporasi strategis. Pasca perjanjian jual beli saham bersyarat yang melibatkan pengusaha Andi Syamsudin Arsyad melalui PT Jhonlin Baratama, kepemilikan saham Low Tuck Kwong di BYAN melonjak menjadi sekitar 20,853% atau setara dengan 6,95 miliar lembar saham.
Also Read
Namun, kerajaan bisnis Low Tuck Kwong tidak hanya terpaku pada komoditas fosil. Sang taipan juga mulai merambah sektor masa depan dengan mengendalikan perusahaan energi terbarukan asal Singapura, Metis Energy. Selain itu, ia memiliki jejak investasi di The Farrer Park Company, Samindo Resources, hingga keterlibatan dalam proyek infrastruktur digital melalui SEAX Global yang tengah membangun sistem kabel laut untuk konektivitas internet antarnegara di Asia Tenggara.
Di bawah dominasi Low Tuck Kwong, persaingan di posisi berikutnya juga sangat ketat. Robert Budi Hartono dan Prajogo Pangestu masing-masing menempati urutan kedua dan ketiga. Hartono mencatatkan kekayaan sebesar US$15,2 miliar (Rp271,9 triliun), disusul oleh Prajogo Pangestu dengan nilai aset US$14,8 miliar atau setara Rp263,74 triliun.
Melengkapi daftar elit ini, Anthoni Salim, penguasa Indofood Group, berada di posisi keempat dengan harta US$10,8 miliar (Rp193,78 triliun). Menyusul di posisi kelima adalah Dato Sri Tahir, pemilik Mayapada Group, yang memiliki kekayaan senilai US$9,4 miliar (Rp168,54 triliun).
Daftar ini ditutup oleh deretan konglomerat berpengaruh lainnya, yakni Sri Prakash Lohia, pendiri Indorama Corp, dengan kekayaan US$8,6 miliar (Rp153,84 triliun), serta Otto Toto Sugiri, pionir di sektor pusat data melalui DCI Indonesia, yang memiliki aset sebesar US$8,2 miliar atau sekitar Rp146,68 triliun. Pergerakan angka-angka ini menjadi cermin nyata bagaimana sektor energi, perbankan, dan teknologi menjadi pilar utama kekayaan para pengusaha besar di Indonesia.






