Jabarpos.id – Kondisi geopolitik global yang kian memanas kembali memberikan tekanan signifikan terhadap stabilitas mata uang domestik. Di tengah ketegangan konflik di Yaman yang terus meningkat, nilai tukar Rupiah terpantau mengalami pelemahan yang cukup tajam pada pembukaan perdagangan Senin (05/10/2026). Berdasarkan pantauan pasar, mata uang Garuda tersebut merosot ke level Rp 17.920 per Dolar AS, atau mengalami penurunan sebesar 0,29 persen.
Meskipun nilai tukar Rupiah sedang berada dalam tren melemah, pasar modal Indonesia justru menunjukkan performa yang kontras. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berhasil mencatatkan performa positif dan bergerak di zona hijau pada awal sesi perdagangan. Hingga pukul 10:03 WIB, IHSG terpantau menguat 0,40 persen ke level 6.060. Fenomena ini menunjukkan adanya dinamika yang menarik antara ketahanan pasar saham domestik dengan tekanan eksternal yang menimpa mata uang nasional.
Ketidakpastian di Timur Tengah, khususnya terkait serangan yang dilancarkan oleh pihak Yaman, menjadi salah satu faktor utama yang memicu sentimen negatif bagi investor. Ketegangan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran akan gangguan rantai pasok global, yang pada akhirnya mendorong aliran modal keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets) menuju aset yang dianggap lebih aman (safe haven), seperti Dolar AS.
Also Read
Sementara itu, di sektor komoditas, pergerakan harga menunjukkan tren yang beragam. Harga minyak mentah dunia terpantau mengalami penurunan. Hal ini dipicu oleh langkah strategis negara-negara anggota G7 yang berupaya untuk melepas cadangan minyak mentah sebanyak 100 juta barel ke pasar. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menstabilkan pasokan energi global di tengah ketidakpastian geopolitik.
Berbanding terbalik dengan minyak, harga batu bara justru menunjukkan tren penguatan yang sangat agresif. Para pelaku pasar memprediksi bahwa harga batu bara dapat terus merangkak naik hingga menyentuh angka fantastis, yakni USD 200 per ton. Lonjakan harga komoditas energi ini dipicu oleh dinamika permintaan global dan terbatasnya pasokan di beberapa wilayah kunci.
Para analis pasar keuangan menyarankan agar investor tetap waspada terhadap fluktuasi nilai tukar yang dipicu oleh isu geopolitik. Pergerakan Rupiah yang masih rentan terhadap sentimen luar negeri menuntut kehati-hatian dalam pengambilan keputusan investasi, terutama pada instrumen yang sensitif terhadap nilai tukar. Meskipun IHSG menunjukkan ketangguhan sementara, stabilitas ekonomi makro tetap akan sangat bergantung pada bagaimana situasi konflik global mereda dalam beberapa waktu ke depan.






