Harga Batu Bara Meroket Tajam

Author Image

Endang Wulansari

6 Oktober 2026, 12:04 WIB

Jabarpos.id – Pasar komoditas global tengah mengalami dinamika yang sangat kontras antara sektor energi fosil dan mineral. Berdasarkan pantauan perdagangan terbaru pada Selasa (06/10/2026), terjadi anomali menarik di mana harga minyak mentah dunia justru mengalami tekanan hebat, sementara harga batu bara justru melonjak drastis hingga mendekati level tertinggi dalam empat bulan terakhir.

Fenomena ini dipicu oleh pergeseran peta pasokan energi global. Di sektor minyak mentah, harga minyak Brent dilaporkan mengalami penurunan signifikan hingga menyentuh angka USD 100 per barel, sementara minyak mentah lainnya bergerak di kisaran USD 89 per barel. Penurunan harga minyak ini disinyalir kuat akibat adanya pemulihan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah. Meningkatnya volume ekspor dari wilayah tersebut membuat suplai di pasar global melimpah, yang secara otomatis menekan harga jual di pasar internasional.

Harga Batu Bara Meroket Tajam
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Berbanding terbalik dengan kondisi minyak, pasar batu bara justru sedang mengalami tren penguatan yang sangat agresif. Keterbatasan pasokan atau kondisi tight supply di pasar global menjadi motor utama penggerak harga. Akibatnya, harga batu bara kini meroket tajam hingga menembus level USD 150 per ton. Lonjakan ini menandakan adanya ketidakseimbangan antara permintaan yang tetap tinggi dengan ketersediaan stok yang semakin menipis di berbagai belahan dunia.

Kondisi pasar komoditas yang fluktuatif ini turut memberikan dampak langsung terhadap pergerakan pasar modal di Indonesia. Pada perdagangan Selasa pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang cukup positif. Hingga pukul 10:05 WIB, IHSG tercatat bergerak ke zona hijau dengan penguatan sebesar 0,73%, menembus level 6.163.

Namun, di sisi lain, nilai tukar Rupiah justru mengalami tekanan. Mata uang Garuda dilaporkan melemah terhadap Dolar AS, dengan posisi berada di level Rp 17.900 per Dolar AS. Pelemahan Rupiah ini menjadi catatan penting bagi para pelaku pasar, mengingat volatilitas harga komoditas global seringkali berkorelasi erat dengan stabilitas nilai tukar domestik.

Para investor kini tengah mencermati bagaimana kelanjutan tren harga batu bara yang terus merangkak naik. Jika kondisi pasokan tetap ketat, ada kemungkinan harga akan terus menembus rekor baru. Di sisi lain, pemulihan ekspor minyak dari Timur Tengah perlu dipantau secara mendalam untuk melihat apakah harga minyak akan terus tertekan atau justru mulai stabil kembali. Dinamika energi global ini diprediksi akan terus menjadi penggerak utama pasar keuangan dalam beberapa waktu ke depan.

Related Post