Rupiah Menguat Tipis Lawan Dolar AS

Author Image

Endang Wulansari

7 Oktober 2026, 15:31 WIB

Jabarpos.id – Mata uang Garuda menunjukkan performa positif dalam perdagangan Rabu (7/10/2026). Nilai tukar rupiah tercatat menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan tren apresiasi yang telah terbentuk sejak hari sebelumnya. Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di level Rp17.875 per dolar AS, atau menguat sebesar 0,08% dibandingkan posisi penutupan pada Selasa (6/10/2026) yang berada di level Rp17.890 per dolar AS.

Meskipun ditutup menguat, pergerakan rupiah sepanjang hari ini sebenarnya sempat mengalami fluktuasi yang cukup dinamis. Pada awal sesi perdagangan, rupiah sempat melesat kuat hingga menyentuh level Rp17.820 per dolar AS. Namun, tekanan dari pasar global membuat mata uang nasional tersebut kehilangan sebagian momentum penguatannya sebelum akhirnya stabil di level penutupan.

Rupiah Menguat Tipis Lawan Dolar AS
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi tolok ukur kekuatan mata uang Amerika terhadap enam mata uang utama dunia justru menunjukkan tren penguatan. Hingga pukul 15.00 WIB, indeks tersebut naik 0,35% ke posisi 102,186. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun rupiah mampu bertahan, tekanan dari mata uang greenback masih cukup nyata di pasar global.

Menilik dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) baru saja merilis laporan mengenai posisi cadangan devisa Indonesia. Hingga akhir September 2026, cadangan devisa tercatat berada di angka US$146,3 miliar. Angka ini mengalami sedikit penurunan sebesar US$200 juta jika dibandingkan dengan posisi pada akhir Agustus yang berada di angka US$146,5 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa dinamika cadangan devisa ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah penarikan pinjaman luar negeri oleh pemerintah serta penerimaan dari sektor pajak dan jasa. Selain itu, BI juga aktif melakukan intervensi untuk memenuhi pembayaran utang luar negeri pemerintah yang telah jatuh tempo, guna menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar global.

Meski mengalami penurunan tipis, BI menegaskan bahwa cadangan devisa Indonesia masih sangat mencukupi. Posisi saat ini setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor, atau jika digabungkan dengan pembayaran utang luar negeri, setara dengan 5,2 bulan impor. Angka ini masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang mensyaratkan minimal tiga bulan impor.

Sementara itu, dari sisi eksternal, pelaku pasar kini tengah menanti rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan September yang dijadwalkan keluar pada Kamis (8/10/2026) dini hari. Risalah ini sangat krusial karena akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve ke depan.

Selain faktor suku bunga, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi perhatian serius. Harga minyak Brent naik 0,8% menjadi US$101,39 per barel, sementara WTI naik 0,7% ke posisi US$90,05 per barel. Kenaikan harga energi ini dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan akibat ancaman badai di Teluk Meksiko serta meningkatnya ketegangan geopolitik akibat serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi.

Related Post