Strategi PLN Atasi Lonjakan Listrik Nasional

Author Image

Endang Wulansari

7 Oktober 2026, 21:04 WIB

Jabarpos.id – Kebutuhan energi listrik di Indonesia diprediksi akan mengalami lonjakan yang sangat drastis dalam beberapa dekade mendatang. Menanggapi tantangan besar tersebut, PT PLN (Persero) selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pengelola kelistrikan tanah air, telah menyiapkan langkah strategis guna memastikan pasokan energi tetap stabil dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.

EVP Manajemen Aset dan Sistem Manajemen Terintegrasi PT PLN (Persero), Tri Hardimasyar, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen penuh untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan energi ini. Salah satu strategi utama yang tengah disiapkan adalah pengembangan energi terbarukan melalui target pengembangan energi surya sebesar 100 GWp secara bertahap.

Strategi PLN Atasi Lonjakan Listrik Nasional
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dalam forum Indonesia International Sustainability Forum 2026, Tri menjelaskan bahwa pada tahap awal, fokus utama pengembangan ini adalah untuk menekan penggunaan bahan bakar diesel. Langkah ini menyasar wilayah-wilayah terpencil yang saat ini belum terhubung dengan jaringan listrik konvensional. PLN berencana mengoptimalkan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) baik dalam bentuk PLTS atap maupun PLTS terapung untuk menjangkau daerah-daerah tersebut.

Lonjakan kebutuhan ini bukan sekadar prediksi tanpa dasar. Berdasarkan riset mendalam yang dilakukan oleh Tenggara Strategics bersama Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, konsumsi listrik nasional diperkirakan akan melonjak tajam dari angka 539 TWh pada tahun 2025 menjadi 1,813 TWh pada tahun 2060.

Menariknya, sektor rumah tangga diprediksi akan menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi sekitar 28 persen dari total permintaan listrik. Hal ini berkaitan erat dengan rencana pemerintah dalam mendorong program konversi energi, yakni peralihan penggunaan kompor LPG ke kompor induksi atau kompor listrik.

Direktur Eksekutif CSIS Indonesia, Yose Rizal Damuri, mengungkapkan bahwa jika program konversi kompor ini dijalankan secara masif, maka akan muncul permintaan listrik baru yang sangat besar, yakni berkisar antara 27,62 GW hingga 53,43 GW. Angka ini sangat bergantung pada tingkat efisiensi teknologi kompor induksi yang digunakan masyarakat.

Langkah konversi ini juga dinilai sebagai solusi cerdas untuk mengurangi beban negara. Saat ini, sekitar 41,46 persen konsumsi energi rumah tangga masih bergantung pada LPG, di mana 77,6 persen kebutuhannya masih harus dipenuhi melalui impor. Dengan beralih ke listrik, Indonesia tidak hanya bisa menghemat devisa negara, tetapi juga menekan angka subsidi energi yang selama ini membebani APBN.

Selain sektor rumah tangga, tren elektrifikasi transportasi melalui kendaraan listrik (EV) juga menjadi motor penggerak permintaan listrik. Adopsi kendaraan listrik diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin. Sebagai gambaran, setiap penambahan satu juta unit kendaraan listrik diperkirakan mampu menghemat konsumsi bensin hingga 1.250 kiloliter per tahun. Melalui kombinasi pengembangan energi surya dan elektrifikasi massal, Indonesia berpeluang besar mencapai kemandirian energi sekaligus mendukung target dekarbonisasi global.

Related Post