Nasib Rupiah di Tengah Badai Global

Author Image

Endang Wulansari

8 Oktober 2026, 04:31 WIB

Jabarpos.id – Kondisi pasar keuangan di Indonesia saat ini tengah berada dalam situasi yang cukup menantang. Berbagai tekanan dari sektor global tampaknya terus membayangi stabilitas ekonomi nasional, terutama terkait fluktuasi harga minyak dunia dan lonjakan inflasi yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Situasi ini diperparah dengan kebijakan kenaikan suku bunga oleh bank-bank sentral di berbagai belahan dunia, yang secara langsung memberikan tekanan hebat pada mata uang domestik.

Berdasarkan pantauan pasar pada perdagangan Senin (05/10), meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menunjukkan penguatan di awal sesi, namun indeks tersebut masih tertahan di level 6.063. Kondisi yang lebih mengkhawatirkan terlihat pada nilai tukar Rupiah yang masih tertekan di posisi Rp 17.850 per Dolar AS. Pelemahan ini menjadi sinyal bahwa ketidakpastian ekonomi global masih sangat tinggi dan berdampak langsung pada aset-aset keuangan di tanah air.

Nasib Rupiah di Tengah Badai Global
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Ekonom dari CNBC Indonesia, Maesaroh, menjelaskan bahwa Rupiah saat ini sedang terjepit di antara dua tekanan besar, yakni faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta era suku bunga tinggi di negara-negara maju menjadi pemicu utama aliran modal keluar dari pasar berkembang, termasuk Indonesia. Konflik yang berkepanjangan di wilayah tersebut tidak hanya menciptakan ketidakpastian politik, tetapi juga memicu volatilitas harga komoditas energi yang berdampak pada neraca perdagangan.

Sementara itu, dari sisi internal, kondisi ekonomi domestik juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Maesaroh menyoroti bahwa posisi neraca dagang Indonesia saat ini tidak sekuat periode-periode sebelumnya. Adanya proyeksi kenaikan defisit transaksi berjalan yang diperkirakan akan meningkat pada tahun 2026 menjadi alarm bagi stabilitas nilai tukar. Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa intervensi atau perbaikan fundamental yang signifikan, maka pelemahan Rupiah diprediksi akan sulit untuk dihindari.

Dampak dari pelemahan nilai tukar ini tidak hanya berhenti pada angka di layar bursa, tetapi akan merembet ke sektor riil. Bagi dunia usaha, volatilitas nilai tukar yang tinggi menciptakan ketidakpastian biaya produksi, terutama bagi perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan biaya input ini pada akhirnya dapat memicu inflasi di tingkat konsumen dan mengganggu daya beli masyarakat.

Oleh karena itu, para pelaku pasar kini tengah mencermati sejauh mana besaran volatilitas pergerakan Rupiah ke depan. Fokus utama bukan hanya pada seberapa dalam Rupiah melemah, melainkan seberapa stabil pergerakannya agar tidak menimbulkan guncangan yang lebih besar bagi ekosistem ekonomi nasional. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini, kewaspadaan terhadap dinamika geopolitik dan kebijakan moneter global menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia.

Related Post