Pasar Saham Indonesia Terperosok Tajam

Author Image

Endang Wulansari

9 Oktober 2026, 06:04 WIB

Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa yang kurang memuaskan pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Memasuki pertengahan sesi kedua, bursa saham tanah air terpantau masih terjebak dalam zona merah dengan tekanan jual yang cukup signifikan. Hingga pukul 13.37 WIB, indeks berada di level 6.083,68, mengalami penurunan sebesar 63,04 poin atau setara dengan 1,03 persen.

Berdasarkan data transaksi yang dihimpun, nilai perdagangan di bursa mencapai Rp6.424,65 miliar dengan total volume transaksi menyentuh angka 413,83 juta lot. Pelemahan ini tidak terjadi secara merata, melainkan didorong oleh jatuhnya beberapa sektor utama yang menjadi tulang punggung pasar.

Pasar Saham Indonesia Terperosok Tajam
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sektor infrastruktur menjadi penyumbang kerugian terbesar dengan koreksi mencapai 2,9 persen. Tak ketinggalan, sektor energi juga ikut tertekan dengan penurunan 1,6 persen, disusul oleh sektor material dasar yang merosot 1,4 persen. Beberapa saham berkapitalisasi besar yang menjadi beban utama IHSG dalam perdagangan hari ini antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), serta PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS).

Meski demikian, IHSG masih mendapatkan sedikit dukungan dari beberapa emiten yang bergerak di arah berlawanan. Saham-saham seperti PT Astra International Tbk. (ASII), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Apollo Global Interactive Tbk. (APOL), PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS), dan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) menjadi penopang agar indeks tidak jatuh lebih dalam.

Sentimen global menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan pasar domestik. Para investor saat ini tengah mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat, terutama setelah rilis risalah Federal Open Market Committee (FOMC) dari rapat The Fed. Sikap The Fed yang cenderung hawkish atau ketat dalam kebijakan suku bunga, ditambah dengan penguatan indeks dolar AS, memberikan tekanan berat bagi pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, fluktuasi imbal hasil (yield) US Treasury juga menjadi perhatian serius. Meskipun sempat terjadi penurunan yield setelah lelang obligasi tenor 10 tahun yang mendapat permintaan kuat, ketidakpastian mengenai suku bunga global tetap membuat investor cenderung bersikap hati-hati. Tingginya imbal hasil obligasi AS seringkali memicu aliran modal keluar dari pasar ekuitas menuju aset yang dianggap lebih aman.

Kondisi ini juga selaras dengan tren di kawasan Asia. Bursa saham Jepang (Nikkei 225), Korea Selatan (Kospi), dan Australia (S&P/ASX 200) terpantau bergerak melemah pada perdagangan Kamis ini. Secara keseluruhan, pasar sedang menunggu data ekonomi lanjutan, termasuk laporan keyakinan konsumen Indonesia dan data pengangguran Amerika Serikat, untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Related Post