Mantan Menteri Jualan Beras di Glodok

Author Image

Endang Wulansari

11 Oktober 2026, 00:32 WIB

Jabarpos.id – Nasib para pejabat negara setelah menanggalkan jabatan resmi selalu menjadi topik yang memancing rasa ingin tahu masyarakat. Ada yang tetap hidup bergelimang kemewahan, namun ada pula yang memilih jalan hidup yang sangat kontras dengan masa kejayaannya. Salah satu kisah yang paling menyentuh hati dan melegenda datang dari sosok mantan Menteri Agama Republik Indonesia, Saifuddin Zuhri.

Pria yang pernah memegang tampuk kepemimpinan di Kementerian Agama ke-10 ini memiliki rekam jejak politik yang panjang. Ia menjabat sebagai menteri sejak tahun 1962 hingga 1967, dan sempat aktif di parlemen sebagai anggota DPR-GR dari Fraksi Nahdlatul Ulama (NU) hingga hasil Pemilu 1971. Namun, siapa sangka, setelah benar-benar meninggalkan panggung politik, kehidupan sang tokoh justru berubah menjadi sangat sederhana.

Mantan Menteri Jualan Beras di Glodok
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Berdasarkan catatan dalam buku Sang Pendoa: Para Kiai Fenomenal Pengayom Kedamaian Umat (2023), pada era 1980-an, Saifuddin Zuhri menjalani profesi yang sama sekali tidak terduga bagi seorang mantan menteri, yakni menjadi pedagang beras di kawasan Pasar Glodok, Jakarta. Rutinitas ini ia jalani dengan penuh ketekunan hampir setiap hari.

Menariknya, Saifuddin melakukan pekerjaan ini secara sembunyi-sembunyi. Ia tidak ingin keluarganya mengetahui bahwa ia harus berjualan di pasar untuk menyambung hidup. Setiap pagi, setelah menunaikan salat Dhuha, ia akan mengemudikan mobilnya sendiri untuk mengangkut karung-karung beras menuju lapak dagangannya. Istri dan anak-anaknya hanya mengetahui bahwa ia selalu pulang membawa uang, tanpa pernah menyadari bahwa sumber penghasilan tersebut berasal dari keringatnya sendiri di tengah hiruk-pikuk pasar.

Rahasia besar ini akhirnya terbongkar secara tidak sengaja. Salah satu putra beliau tanpa sengaja melihat sang ayah sedang sibuk melayani pembeli di tengah keramaian Pasar Glodok. Kejadian tersebut menjadi momen yang mengungkap sisi kemanusiaan dan kesederhanaan luar biasa dari seorang mantan pejabat tinggi negara.

Padahal, jika menilik sejarah hidupnya, jiwa kewirausahaan dan kemandirian sudah tertanam sejak lama. Dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren (1984), ia bercerita bahwa pada tahun 1942, ia pernah berjualan berbagai barang mulai dari pakaian bekas hingga perabotan loak demi menghidupi keluarga.

Integritas Saifuddin Zuhri juga telah teruji sejak ia masih menjabat sebagai menteri. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat teguh pada prinsip. Ia bahkan menolak fasilitas rumah dinas mewah yang disediakan negara karena merasa tidak ingin bersikap serakah. Ia lebih memilih mencicil rumah pribadi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bahkan, setelah rumah tersebut lunas, ia justru menghibahkannya untuk kepentingan sosial Nahdlatul Ulama.

Sosok ayah dari Lukman Hakim Saifuddin ini wafat pada 25 Februari 1986. Meski raganya telah tiada, warisan nilai tentang kejujuran, kesederhanaan, dan integritas yang ia tunjukkan melalui profesi pedagang beras tersebut tetap menjadi teladan abadi bagi seluruh pejabat di negeri ini.

Related Post