IHSG Meroket Tajam Hari Ini

Author Image

Endang Wulansari

11 Oktober 2026, 02:04 WIB

Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang sangat impresif pada perdagangan Jumat (9/10/2026). Menjelang penutupan sesi kedua siang ini, pasar modal Indonesia mencatatkan lonjakan signifikan dengan penguatan di atas 1 persen. IHSG berhasil menyentuh level 6.092,50, atau melonjak sebesar 61,22 poin atau naik 1,02 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Aktivitas transaksi di bursa berjalan sangat dinamis dengan volume perdagangan mencapai 303,55 juta lot saham. Nilai transaksi yang mengalir di pasar modal tercatat sangat besar, yakni menyentuh angka Rp6.847,74 miliar atau sekitar Rp6,85 triliun.

IHSG Meroket Tajam Hari Ini
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Lonjakan tajam ini tidak lepas dari kontribusi kuat beberapa sektor utama. Sektor industri menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan mencapai 2,03 persen. Selain itu, sektor material dasar turut menyumbang penguatan sebesar 1,8 persen, disusul oleh sektor infrastruktur yang naik 1,3 persen.

Beberapa saham unggulan yang menjadi pendorong utama kenaikan IHSG di jalur hijau antara lain adalah PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), serta PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA). Di sisi lain, terdapat beberapa saham yang justru menekan pergerakan indeks, seperti PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), dan PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO).

Sentimen pasar pada hari ini dipengaruhi oleh berbagai faktor makroekonomi, mulai dari perkembangan konsumsi domestik, ketahanan pasar tenaga kerja di Amerika Serikat (AS), hingga risiko fluktuasi harga energi global. Fokus investor saat ini tertuju pada data penjualan ritel di Indonesia guna melihat sejauh mana keberlanjutan pemulihan daya beli masyarakat. Selain itu, perkembangan APBN dan investasi di sektor hilirisasi juga menjadi sorotan terkait kebutuhan pembiayaan pemerintah serta prospek ekspor nasional.

Dari kancah internasional, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026 memberikan pengaruh pada pasar. Meski demikian, ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap membayangi, terutama terkait risiko pasokan minyak global. Sebelumnya, kekhawatiran eskalasi konflik sempat mendorong harga minyak Brent naik lebih dari 4 persen hingga menembus US$104 per barel.

Di sisi lain, Bank Indonesia melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September berada di level 118,1, sedikit menurun dari bulan Agustus yang berada di angka 118,5. Meski angka di atas 100 menunjukkan optimisme konsumen masih terjaga, penurunan tipis ini mengindikasikan pemulihan daya beli yang belum merata di seluruh lapisan masyarakat.

Sementara itu, dari Eropa, risalah rapat Bank Sentral Eropa (ECB) menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan masih mewaspadai risiko kenaikan inflasi akibat ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik Rusia-Ukraina. Hal ini membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lanjutan di masa mendatang.

Terakhir, Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, memperingatkan bahwa harga energi berpotensi tetap tinggi dalam jangka panjang. Gangguan distribusi akibat ancaman di Selat Hormuz serta keterbatasan kapasitas penyulingan menjadi faktor utama yang dapat menekan harga bahan bakar global hingga tahun 2027 mendatang.

Related Post