Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang sangat impresif pada perdagangan Jumat (9/10/2026). Menjelang berakhirnya sesi kedua siang ini, bursa saham Indonesia terpantau terbang tinggi dengan kenaikan melampaui angka 1 persen. Indeks berhasil menyentuh level 6.092,50, yang berarti terjadi penguatan sebesar 61,22 poin atau setara dengan 1,02 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Perjalanan IHSG sepanjang hari ini tergolong sangat dinamis dan penuh drama. Pada pembukaan pasar, indeks sebenarnya memulai hari di posisi 6.039,01. Namun, tekanan jual sempat membuat indeks terperosok hingga menyentuh level terendah di 5.995,82. Momen ini sempat memicu kekhawatiran pelaku pasar karena indeks sempat jatuh di bawah level psikologis 6.000. Meski sempat tertekan, kekuatan beli para investor berhasil membangkitkan kembali semangat pasar, hingga indeks terus merangkak naik dan mencapai puncak di level 6.093,20.
Aktivitas transaksi di lantai bursa juga menunjukkan antusiasme yang tinggi. Tercatat volume perdagangan mencapai 303,55 juta lot saham dengan nilai transaksi yang sangat fantastis, yakni menyentuh angka Rp6.847,74 miliar atau sekitar Rp6,85 triliun.
Also Read
Kenaikan signifikan ini dipengaruhi oleh berbagai sentimen global dan domestik yang saling berkelindan. Dari sisi dalam negeri, para investor tengah mencermati data penjualan ritel untuk mengukur sejauh mana pemulihan daya beli masyarakat dapat terus berlanjut. Selain itu, isu mengenai pengelolaan APBN serta perkembangan investasi di sektor hilirisasi juga menjadi sorotan utama terkait prospek produksi dan ekspor nasional.
Di kancah internasional, pernyataan politik dari Amerika Serikat turut memberikan warna pada pergerakan pasar. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilihan paruh waktu pada November mendatang memberikan sedikit napas lega bagi pasar energi. Hal ini terjadi setelah sebelumnya ketegangan geopolitik sempat memicu lonjakan harga minyak Brent hingga menembus US$104 per barel. Meski demikian, risiko ketidakpastian di Timur Tengah tetap menjadi perhatian, terutama terkait ancaman blokade laut terhadap Iran.
Selain itu, laporan dari Bank Indonesia mengenai Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang sedikit melandai juga menjadi catatan penting. Walaupun angka IKK masih berada di atas level 100 yang menunjukkan optimisme, penurunan tipis dari bulan sebelumnya mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi belum sepenuhnya merata di seluruh lapisan masyarakat.
Sentimen global lainnya datang dari peringatan Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, yang menyebutkan bahwa harga energi berpotensi tetap tinggi dalam jangka panjang. Gangguan pada jalur distribusi di Selat Hormuz serta keterbatasan kapasitas penyulingan menjadi faktor utama yang dapat menekan harga minyak dan gas dunia hingga tahun 2027 mendatang. Kondisi ini memaksa investor untuk tetap waspada terhadap volatilitas pasar di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi ekonomi global.






