Jabarpos.id – Sektor keuangan Indonesia tengah menjadi magnet luar biasa bagi para investor global. Di tengah fluktuasi pasar saham yang tidak menentu, sebuah tren menarik justru muncul ke permukaan: para pemain besar dunia sedang berlomba-lomba mengincar bisnis pengelolaan investasi (asset management) dan layanan pengelolaan kekayaan (wealth management) di tanah air. Fenomena ini menandakan bahwa segmen nasabah kelas atas atau kelompok masyarakat berpendapatan tinggi di Indonesia sedang menjadi incaran utama ekspansi modal asing.
Gelombang akuisisi ini bukan sekadar isu belaka. Sepanjang tahun ini, sejumlah transaksi besar telah mencatatkan jejaknya. Sebagai contoh, Manulife Wealth & Asset Management melakukan langkah agresif dengan mengakuisisi Schroders Indonesia. Tak berhenti di situ, OCBC Indonesia juga melakukan manuver serupa dengan mengambil alih lini bisnis International Wealth and Premier Banking milik HSBC Indonesia.
Tren panas ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan merambah ke seluruh kawasan Asia Tenggara. Merujuk pada laporan konsultan global Ernst & Young (EY), aktivitas transaksi di sektor wealth dan asset management di kawasan ini melonjak tajam. Pada semester pertama tahun 2026, tercatat ada delapan transaksi besar, meningkat drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencatatkan tiga transaksi. Nilai transaksinya pun melambung tinggi dari hanya US$0,8 juta menjadi US$145 juta.
Also Read
Indonesia sendiri dipandang sebagai salah satu pasar paling menjanjikan. Hal ini didorong oleh pertumbuhan jumlah masyarakat kaya yang pesat serta meningkatnya permintaan terhadap produk investasi yang lebih kompleks dan terkelola. Salah satu bukti nyata adalah masuknya BlueFive Capital, perusahaan asal Abu Dhabi, yang melakukan investasi strategis di Majoris Asset Management melalui platform syariah BlueFive786. Sebelumnya, mereka juga telah menjalin aliansi dengan Sriwijaya Capital untuk menghubungkan modal dari Timur Tengah ke pasar Asia Tenggara, dengan Indonesia sebagai poros utamanya.
Direktur Utama Majoris Asset Management, San Verandy Herveranto, mengungkapkan bahwa ketertarikan investor global ini adalah bentuk kepercayaan terhadap prospek ekonomi jangka panjang Indonesia. Namun, ia memberikan catatan penting. Menurutnya, peluang emas ini harus dibarengi dengan tata kelola perusahaan yang ketat dan manajemen risiko yang mumpuni agar kepercayaan investor tidak luntur. Kemitraan strategis ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas manajer investasi lokal dalam menciptakan produk inovatif dan mengakses modal internasional.
Dari sisi analisis pasar, Head of Research RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya, menilai bahwa kondisi pasar saat ini justru memberikan celah bagi investor strategis. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi cukup dalam, hal ini justru bisa menjadi pintu masuk yang menarik bagi mereka yang ingin membeli aset dengan harga yang lebih kompetitif.
Andrey menekankan bahwa masuk melalui perusahaan lokal adalah strategi tercepat bagi investor asing untuk memahami karakteristik pasar dan menjangkau jaringan distribusi nasabah di Indonesia. Meski demikian, ia mengingatkan agar investor tidak hanya sekadar mengejar harga murah, tetapi tetap harus selektif melihat kualitas bisnis, prospek laba, dan rasionalitas harga transaksi.
Meskipun IHSG tercatat mengalami koreksi hampir 30% tahun ini, fundamental pasar modal domestik sebenarnya tetap tumbuh subur. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan jumlah investor pasar modal Indonesia telah menembus angka 32,17 juta orang, naik hampir 58% hingga September 2026. Dengan total dana kelolaan industri pengelolaan investasi yang sudah melampaui Rp1.000 triliun, Indonesia benar-benar menjadi "ladang emas" baru bagi para pemain keuangan dunia.






