Jabarpos.id – Ambisi PT Gayo Mineral Resources (GMR), anak usaha dari PT Darma Henwa Tbk (DEWA), untuk mengembangkan proyek tambang emas dan tembaga di Aceh kini tengah menghadapi jalan buntu. Proyek strategis yang diharapkan menjadi tulang punggung perusahaan ini terpaksa berhenti beroperasi selama lebih dari tujuh bulan akibat kombinasi masalah birokrasi perizinan dan hantaman bencana alam yang tak terduga.
Berdasarkan laporan aktivitas eksplorasi terbaru untuk periode Juli hingga September 2026, perusahaan mencatatkan angka nol meter untuk kegiatan pengeboran baru sepanjang kuartal III-2026. Kondisi ini merupakan kelanjutan dari penundaan yang telah terjadi sejak awal Maret 2026. Penyebab utamanya adalah belum terbitnya Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang menjadi syarat mutlak operasional di lapangan.
Padahal, rencana awal untuk pengeboran Fase #2B di wilayah Prospek Upper Tengkereng (UT) dijadwalkan berlangsung sejak Februari 2026 hingga pertengahan 2027. Akibat kendala administratif ini, perusahaan mengategorikan situasi tersebut sebagai keadaan kahar atau force majeure. Dampaknya, total kedalaman pengeboran yang tercatat tetap stagnan di angka 31.485,75 meter, tidak mengalami penambahan sejak akhir kuartal II-2026.
Also Read
Ironisnya, meski aktivitas pengeboran oleh kontraktor PT Arfa Explorindo Nusantara berhenti total, beban finansial perusahaan tetap mengalir. GMR tercatat harus menggelontorkan biaya eksplorasi sebesar Rp14,51 miliar selama kuartal III-2026 untuk pemeliharaan di dua area utama, yakni Upper Tengkereng dan Southeast Tengkereng.
Hantaman Alam dan Kendala Logistik
Selain urusan dokumen, alam juga memberikan tantangan berat bagi kelancaran proyek ini. Wilayah Aceh dan sekitarnya dilanda banjir bandang serta tanah longsor yang mengakibatkan akses menuju lokasi tambang terputus. Gangguan logistik ini membuat distribusi material dan personel menjadi sangat sulit dilakukan.
Bencana tersebut juga merusak infrastruktur pemantauan air. Dua bendung yang berfungsi memantau debit aliran sungai dilaporkan rusak bahkan hilang tersapu arus. Padahal, bendung tersebut sangat krusial dalam studi ketersediaan air permukaan guna memastikan kebutuhan operasional tambang di masa depan dapat terpenuhi.
Masalah lain yang belum terselesaikan adalah kepastian akses lahan. Meski pemetaan menggunakan teknologi drone telah dilakukan, perusahaan masih kesulitan mengamankan dua titik bor penting di wilayah Southeast Tengkereng. Tanpa kepastian lahan, pengeboran tahap berikutnya mustahil untuk dilaksanakan.
Fokus pada Audit dan Persiapan Teknis
Di tengah kebuntuan lapangan, GMR tidak tinggal diam. Perusahaan mengalihkan fokus pada penguatan data teknis dan persiapan administratif. Salah satu langkah besar yang diambil adalah penunjukan SRK Consulting (Australasia) Pty Ltd untuk melakukan audit JORC secara independen. Audit ini bertujuan untuk menyusun estimasi sumber daya yang lebih akurat berdasarkan data pengeboran yang telah ada.
GMR juga tengah melakukan evaluasi mendalam terhadap parameter sumber daya di Prospek UT, termasuk penghitungan ulang kadar batas (cut-off grade) dengan mempertimbangkan ekuivalen emas dan tembaga. Langkah ini diambil agar estimasi cadangan yang dihasilkan nantinya lebih presisi dan kompetitif.
Saat ini, manajemen GMR tengah berupaya keras mempercepat proses perpanjangan IUP Eksplorasi agar dapat segera ditingkatkan menjadi IUP Operasi Produksi. Jika izin tersebut segera turun, perusahaan telah menyiapkan rencana besar untuk melanjutkan pengeboran Fase #2B dengan konsep tambang bawah tanah Underground Block Cave yang sangat masif.





