Jabarpos.id – Dinamika kepemilikan saham di sektor pertambangan batu bara kembali memanas. Konglomerat ternama, Low Tuck Kwong, yang merupakan sosok di balik raksasa tambang PT Bayan Resources Tbk (BYAN), kembali menunjukkan pergerakan agresif di pasar modal. Setelah sebelumnya sempat melepas sebagian besar kepemilikannya kepada entitas milik pengusaha asal Kalimantan Selatan, Haji Isam, Low Tuck Kwong kini justru kembali melakukan aksi borong saham perusahaan yang ia pimpin tersebut.
Berdasarkan data keterbukaan informasi yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), Low Tuck Kwong melakukan transaksi pembelian sebanyak 500.000 lembar saham BYAN. Transaksi ini dilakukan pada tanggal 13 Oktober 2026 dengan harga eksekusi sebesar Rp11.200 per lembar saham. Jika dihitung secara total, sang Direktur Utama BYAN ini telah menggelontorkan dana segar mencapai Rp5,6 miliar untuk menambah porsi kepemilikannya.
Langkah ini menarik perhatian para pelaku pasar karena dilakukan tak lama setelah terjadinya transaksi besar-besaran yang melibatkan PT Jhonlin Baratama, perusahaan milik Haji Isam. Sebelumnya, PT Jhonlin Baratama telah mengakuisisi saham BYAN milik Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low, dalam jumlah yang sangat fantastis. Sebanyak 10.084.088.370 lembar saham atau setara dengan 30,25% kepemilikan telah berpindah tangan.
Also Read
Menariknya, transaksi akuisisi oleh pihak Jhonlin tersebut dilakukan pada harga Rp2.588 per saham, yang nilainya terpaut cukup jauh dari harga pasar saat itu. Nilai total transaksi yang tercatat pada 8 Oktober 2026 tersebut mencapai angka yang sangat masif, yakni sekitar Rp26,09 triliun.
Meski sempat melakukan pelepasan saham dalam jumlah besar, Low Tuck Kwong menegaskan bahwa ia tidak akan melepaskan kendali atas perusahaan. Sebelum melakukan pembelian terbaru ini, ia tercatat memiliki 3,316 miliar saham atau setara dengan 9,95% hak suara. Pasca transaksi pembelian 500.000 lembar saham tersebut, total kepemilikannya kini menjadi 3,3167 miliar saham. Walaupun jumlah sahamnya bertambah, persentase hak suaranya secara teknis masih berada di level 9,95%.
Manajemen BYAN menjelaskan bahwa tujuan dari pembelian saham ini murni untuk kepentingan investasi jangka panjang dan bukan merupakan bagian dari perjanjian pembelian kembali atau repurchase agreement. Low Tuck Kwong juga menyatakan komitmennya untuk tetap memegang status sebagai pengendali utama dalam struktur perusahaan.
Rangkaian transaksi ini menunjukkan adanya pergeseran struktur pemegang saham yang signifikan di tubuh BYAN dalam periode singkat antara pertengahan September hingga awal Oktober 2026. Setelah sempat melepas puluhan juta saham, aksi beli terbaru ini seolah menjadi sinyal kepercayaan diri sang taipan terhadap prospek masa depan perusahaan tambang batu bara tersebut di tengah fluktuasi pasar energi global.






