Rupiah Terpuruk Mendekati Rekor Terburuk

Author Image

Endang Wulansari

28 Oktober 2026, 04:31 WIB

Jabarpos.id – Mata uang Garuda kembali menunjukkan performa yang kurang menggembirakan di pasar keuangan global. Pada perdagangan Selasa (27/10/2026), nilai tukar rupiah harus rela menyerah dan ditutup di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan depresiasi ini seolah menjadi kelanjutan dari tren pelemahan yang telah terjadi sejak hari sebelumnya, memperkuat kekhawatiran para pelaku pasar mengenai stabilitas nilai tukar domestik.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Refinitiv, rupiah mencatatkan penurunan sebesar 0,19 persen dan berakhir di level Rp18.145 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada Senin (26/10/2026) yang berada di level Rp18.110 per dolar AS. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena posisi rupiah kini hanya berjarak 25 poin dari rekor terlemah sepanjang sejarah, yakni saat menyentuh Rp18.170 per dolar AS pada Juni 2026 lalu.

Rupiah Terpuruk Mendekati Rekor Terburuk
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sepanjang sesi perdagangan, rupiah sebenarnya sempat bergerak fluktuatif dalam rentang Rp18.120 hingga Rp18.155 per dolar AS. Meski sempat menunjukkan sedikit perlawanan di akhir sesi dengan menguat 10 poin dari level terendahnya hari itu, namun secara keseluruhan rupiah tetap gagal mempertahankan daya tahannya terhadap dominasi dolar AS.

Salah satu faktor utama yang memicu tekanan ini adalah penguatan indeks dolar AS (DXY). Indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia tersebut tercatat naik 0,16 persen ke posisi 102,122. Penguatan dolar ini didorong oleh melemahnya mata uang euro serta sikap antisipatif pasar menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).

Pasar saat ini tengah menantikan hasil pertemuan The Fed yang dijadwalkan berakhir pada Kamis dini hari WIB. Meskipun banyak pihak memprediksi suku bunga akan tetap di level saat ini, namun spekulasi mengenai kemungkinan pengetatan kebijakan moneter sebelum akhir tahun masih sangat kuat. Data dari CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga hingga Desember mencapai angka 73 persen, yang secara otomatis meningkatkan daya tarik aset dalam denominasi dolar.

Selain faktor eksternal dari kebijakan The Fed, kondisi fundamental ekonomi dalam negeri juga memberikan tekanan tambahan. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa defisit transaksi berjalan menjadi salah satu titik kerentanan rupiah saat terjadi gejolak global. Pada kuartal II-2026, defisit transaksi berjalan Indonesia melonjak hingga mencapai US$12,49 miliar atau setara 3,34 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Lonjakan defisit ini menunjukkan bahwa pendapatan dari sektor perdagangan barang dan jasa belum mampu menutupi kewajiban pembayaran ke luar negeri. Kondisi ini memaksa Indonesia untuk bergantung pada aliran modal asing guna menutupi celah pendanaan tersebut. Ketika ketidakpastian global meningkat, aliran modal cenderung keluar, yang pada akhirnya memperberat beban rupiah dalam memenuhi kebutuhan valuta asing di pasar.

Related Post