Di usia yang relatif muda, 34 tahun, Liu Jingkang atau yang akrab disapa JK, kini resmi menyandang status konglomerat baru dengan kekayaan fantastis. Berdasarkan laporan jabarpos.id, lonjakan kekayaan ini bersumber dari kesuksesan perusahaan kamera aksi besutannya, Insta360, yang baru saja melantai di bursa saham.
Produsen kamera aksi terkemuka, Insta360, mencatat debut gemilang di Bursa Efek Shanghai, membuat sahamnya meroket hampir empat kali lipat dari harga penawaran perdana. Valuasi perusahaan ini bahkan sempat menyentuh angka 143 miliar yuan, atau setara Rp 340 triliun. Dengan kepemilikan saham yang signifikan, kekayaan pribadi JK diperkirakan mencapai US$ 3,7 miliar, atau sekitar Rp 62 triliun, menurut data terbaru dari Forbes. Angka ini kemudian disesuaikan menjadi sekitar US$ 2,7 miliar atau Rp 44 triliun, berdasarkan porsi kepemilikan saham Liu sekitar 26,8%, termasuk yang dipegang istrinya.

Insta360, yang secara resmi terdaftar dengan nama Arashi Vision dan bermarkas di Shenzhen, berhasil menghimpun dana sebesar 1,94 miliar yuan (sekitar US$270 juta) melalui penawaran umum perdana (IPO) di papan STAR Market beberapa waktu lalu. Saham perusahaan dibuka pada harga 182 yuan, melonjak 285% dari harga IPO sebesar 47,27 yuan, menjadikannya IPO terbesar di papan STAR Market sepanjang tahun ini. Dana yang terkumpul dari IPO ini sebagian besar akan dialokasikan untuk mendukung riset dan pengembangan produk di masa mendatang.
JK, seorang lulusan ilmu komputer dari Universitas Nanjing, mendirikan Insta360 pada tahun 2015. Kiprahnya di dunia teknologi telah diakui secara internasional, termasuk masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia pada tahun 2017. Dalam pidatonya saat seremoni pencatatan saham di Shanghai, Liu mengenang perjalanannya: "Sepuluh tahun lalu, kami keluar dari asrama Universitas Nanjing dengan sumber daya terbatas dan impian yang besar. Sepuluh tahun berlalu, produk unggulan kami telah berkembang dari ONE X menjadi X5, dan makin jauh kami melangkah, makin jelas pula visi awal kami."
Insta360 menawarkan beragam produk pencitraan yang telah populer di kalangan videografer dan kreator konten global. Lini produknya mencakup kamera aksi 360 derajat seri ‘X’ dan kamera mini seri ‘Go’, yang dikenal dengan inovasi dan kualitasnya.
Kinerja keuangan Insta360 menunjukkan pertumbuhan yang impresif. Pada tahun 2024, perusahaan mencatat pendapatan sebesar 5,6 miliar yuan (sekitar US$779,9 juta), meningkat 53,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih juga tumbuh signifikan, mencapai 994,7 juta yuan, naik 19,9% secara tahunan. Pertumbuhan pesat ini didorong oleh penjualan domestik yang kuat serta ekspansi internasional yang berhasil, terutama di pasar-pasar kunci seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Tahun lalu, 76% dari total pendapatan perusahaan berasal dari pasar luar negeri, termasuk penjualan senilai 1,3 miliar yuan dari AS.
Dengan sekitar 2.000 karyawan yang tersebar di berbagai kantor global, termasuk di China, AS, Jepang, dan Jerman, Insta360 memiliki rencana ambisius untuk terus memperluas penetrasi pasar internasionalnya. Sebelum IPO, Insta360 telah didukung oleh sejumlah investor besar seperti Qiming Venture Partners, IDG Capital, Xunlei, dan Suning Holdings Group. Pada tahun 2019, perusahaan juga berhasil menggalang dana sebesar US$30 juta dari investor seperti Everest Venture Capital, MG Holdings, dan Huajin Capital. Media pemerintah China bahkan menjuluki Insta360 sebagai "little giant" atau "raksasa kecil", mengacu pada statusnya sebagai perusahaan teknologi yang sedang naik daun dengan potensi besar di sektor perangkat elektronik konsumen.
Namun, di balik kesuksesan ini, Insta360 juga menghadapi sejumlah tantangan. Ketegangan dagang antara AS dan China menjadi salah satu faktor yang meningkatkan ketidakpastian terhadap ekspansi bisnis luar negeri, terutama akibat perubahan kebijakan tarif dari Gedung Putih. Selain itu, persaingan di industri elektronik konsumen semakin ketat, dengan GoPro dan DJI diidentifikasi sebagai pesaing utama di segmen kamera aksi. Pada tahun 2024, Komisi Perdagangan Internasional AS bahkan mengumumkan penyelidikan atas gugatan pelanggaran paten yang diajukan GoPro terhadap Insta360, yang hasilnya masih belum diumumkan hingga saat ini.
Di sisi inovasi, Insta360 terus berinvestasi pada pengembangan fitur berbasis kecerdasan buatan (AI) dan kompatibilitas dengan teknologi realitas virtual (VR). Perusahaan juga menjalin kemitraan strategis dengan Apple untuk mendukung video dari kamera Insta360 di headset Vision Pro. Pada April lalu, Insta360 meluncurkan fitur AI baru dalam aplikasinya yang mampu menambahkan musik dan transisi otomatis pada rekaman video, bertujuan untuk mendukung kreator konten agar lebih efisien dalam proses pengeditan.
Permintaan terhadap kamera Insta360 diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi kreator global. Laporan Deloitte menyebutkan bahwa pada tahun 2023, terdapat sekitar 50 juta kreator online dan lima miliar pengguna media sosial di seluruh dunia. Tren konten kreator global ini diperkirakan akan mencapai nilai US$2 triliun pada tahun 2026, yang diyakini akan terus mendongkrak permintaan terhadap perangkat kamera berkualitas tinggi seperti produk-produk inovatif dari Insta360.





