Jabarpos.id, Jakarta – Kendaraan listrik (EV) diprediksi akan menjadi bintang di pasar otomotif Indonesia pada tahun 2025, dengan pertumbuhan penjualan yang diperkirakan mencapai 12,8%. Namun, di balik potensi yang menggiurkan ini, tersembunyi sejumlah tantangan yang perlu diatasi agar mobil listrik benar-benar bisa merajai jalanan Indonesia.
Salah satu kendala utama adalah infrastruktur pengisian daya. Saat ini, Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) masih terpusat di kota-kota besar seperti Jakarta. Keterbatasan ini tentu menjadi penghalang bagi masyarakat di daerah yang ingin beralih ke mobil listrik.

Selain itu, nilai jual kembali (resale value) mobil listrik yang cenderung menurun juga menjadi pertimbangan penting bagi konsumen. Masyarakat masih melihat mobil sebagai aset, dan penurunan nilai yang signifikan tentu membuat mereka berpikir dua kali sebelum membeli mobil listrik.
Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), menekankan pentingnya pengembangan tiga komponen utama dalam ekosistem kendaraan listrik, yaitu motor listrik, semikonduktor, dan teknologi baterai. Penguatan ketiga komponen ini akan menjadi kunci untuk memperkokoh posisi mobil listrik di Indonesia.
Gaikindo juga berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lebih terhadap sektor otomotif, terutama terkait aturan perpajakan. Kukuh menyoroti perbedaan signifikan dalam pajak kendaraan bermotor antara Indonesia dan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Sebagai contoh, pajak tahunan untuk Toyota Avanza di Indonesia mencapai Rp 5 juta, sementara di Malaysia hanya sekitar Rp 600 ribu dan di Thailand bahkan lebih rendah lagi, hanya Rp 150 ribu.
Tantangan industri otomotif Indonesia dan upaya-upaya yang dibutuhkan untuk mendorong kemajuannya menjadi topik bahasan menarik dalam dialog Bunga Cinka dengan Kukuh Kumara dalam program AutoBizz, CNBC Indonesia, Selasa (03/02/2026).





