jabarpos.id, Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) membantah isu kerugian BUMN sebesar Rp50 triliun. COO Danantara, Dony Oskaria, justru mengungkap fakta mencengangkan laba BUMN tahun 2025 mencapai Rp332 triliun.
Dony, yang juga menjabat sebagai Kepala BP BUMN, menjelaskan bahwa potensi kerugian Rp50 triliun berasal dari kerugian 52% perusahaan dari total 1.043 perusahaan sebesar Rp20 triliun, serta inefisiensi senilai Rp30 triliun.

"Jika kita berhasil melakukan konsolidasi tanpa mengubah model bisnis, laba kita tahun depan, setelah proses konsolidasi, seharusnya menjadi Rp380 triliun," ungkapnya dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta.
Target tahun ini pun tak kalah ambisius. Melalui PT Danantara Aset Manajemen (DAM), BUMN menargetkan laba minimal Rp360 triliun. "Masyarakat harus tahu bahwa BUMN memberikan keuntungan yang cukup besar, yaitu Rp360 triliun tahun ini," tegas Dony seperti dikutip jabarpos.id.
Lebih lanjut, Dony menjelaskan kontribusi BUMN terhadap negara melalui pajak. Konsolidasi dari 1.000 perusahaan menjadi 30 perusahaan berdasarkan klaster dilakukan untuk meninjau kembali bisnis dan pendapatan.
"Kita review revenue streamnya, kita cek lagi revenue compositionnya, cost structurenya, EBITDA marginnya, dan lain-lain. Kita harapkan nanti tahun depan, tahun ini 2026 menjadi Rp360 triliun target laba kita," jelasnya.
Bahkan, target laba BUMN untuk tahun 2027 semakin fantastis, mencapai Rp400 triliun.
"Jadi, ini merupakan salah satu perusahaan yang sangat besar di dunia. Dengan laba kurang lebih kita targetkan, saya secara personal itu menetapkan target paling tidak 2027 itu kita masuk ke angka hampir Rp400 triliun laba," pungkasnya.





