Jabarpos.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali menggencarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya mencapai target literasi keuangan sebesar 69,35% yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.
Survei yang diinisiasi oleh OJK bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) ini, menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, Friderica Widyasari Dewi, merupakan fondasi penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program literasi dan inklusi keuangan.

Target ambisius ditetapkan, dengan literasi keuangan diharapkan mencapai 67,46% dan inklusi keuangan menyentuh angka 83% pada tahun 2026. Kiki, sapaan akrab Friderica, mengungkapkan bahwa SNLIK kali ini berbeda karena melibatkan sinergi dengan LPS, sesuai dengan amanat UU PPSK.
Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, menambahkan bahwa jumlah responden ditingkatkan signifikan menjadi 75.000 untuk mendapatkan data yang lebih akurat hingga tingkat provinsi. Hal ini memungkinkan analisis yang lebih mendalam dan penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
BPS melalui Amalia, mengapresiasi kolaborasi produktif ini dan menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam memberikan data yang jujur dan terbuka. Kerahasiaan data responden dijamin sepenuhnya sesuai standar yang berlaku.
Pemerintah menargetkan inklusi keuangan mencapai 93% pada tahun 2029. Sementara pada tahun 2025, inklusi keuangan tercatat sebesar 80,51% dan literasi keuangan berada di kisaran 66,46% – 66,64%.





