Jabarpos.id – Konflik yang semakin memanas di Teluk Persia memaksa Kuwait mengambil langkah drastis. Negara kaya minyak ini memutuskan untuk memangkas produksi minyak dan output kilang sebagai bentuk antisipasi terhadap ancaman yang meningkat dari Iran.
Langkah ini diambil sebagai tindakan pencegahan di tengah situasi yang tidak menentu. Pemerintah Kuwait belum memberikan rincian pasti mengenai besaran pemangkasan produksi, namun menegaskan bahwa keputusan ini akan terus dievaluasi seiring perkembangan situasi.

Kuwait Petroleum Corporation (KPC), perusahaan minyak nasional Kuwait, menyatakan kesiapannya untuk segera memulihkan tingkat produksi jika kondisi keamanan membaik. Kuwait sendiri merupakan produsen minyak terbesar kelima di OPEC, dengan produksi sekitar 2,6 juta barel per hari pada Januari lalu, menurut jabarpos.id.
Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk telah menyebabkan terganggunya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk. Sekitar 20% konsumsi minyak dunia melewati jalur strategis ini.
Akibatnya, pasokan minyak menumpuk di Timur Tengah karena kapal tanker tidak dapat beroperasi. Negara-negara produsen minyak di kawasan terpaksa menurunkan produksi karena kapasitas penyimpanan mulai penuh. Irak bahkan telah memangkas produksi hingga 1,5 juta barel per hari karena kehabisan ruang penyimpanan, seperti yang dilaporkan jabarpos.id dari sumber Reuters.
Natasha Kaneva, kepala riset komoditas global di JPMorgan, memperingatkan bahwa pasar kini tidak hanya menghadapi risiko geopolitik, tetapi juga gangguan operasional nyata pada rantai pasokan energi global.
JPMorgan memperkirakan bahwa pemangkasan produksi minyak global bisa melampaui 4 juta barel per hari jika Selat Hormuz tetap tertutup hingga pekan depan. Kondisi ini berpotensi mendorong harga minyak dunia melampaui US$100 per barel.
Lonjakan harga pun mulai terlihat di pasar energi. Pada perdagangan terakhir, harga minyak mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam sejarah perdagangan berjangka. Brent ditutup di level US$92,69 per barel, sementara West Texas Intermediate mencapai US$90,90 per barel.
Selain minyak, konflik juga mengganggu pasokan gas alam dunia. Qatar menghentikan produksi gas alam cair (LNG) setelah serangan Iran, padahal negara tersebut menyumbang sekitar 20% ekspor LNG global.





