Jabarpos.id – Di tengah maraknya fenomena anak pejabat yang memanfaatkan nama besar orang tua untuk meraih kesuksesan, kisah Soesalit, putra pahlawan emansipasi wanita R.A. Kartini, memberikan pelajaran berharga. Ia memilih jalan hidup yang jauh dari kemewahan dan popularitas, menolak mentah-mentah untuk mendompleng nama besar sang ibu.
Soesalit, yang lahir dari keluarga terpandang dengan ayah seorang Bupati Rembang dan ibu seorang tokoh revolusioner, memiliki kesempatan emas untuk meraih jabatan tinggi. Namun, ia memilih jalan pengabdian sebagai seorang tentara. Bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA) dan kemudian menjadi bagian dari Tentara Keamanan Rakyat Republik Indonesia, Soesalit terlibat dalam berbagai pertempuran melawan penjajah.

Kariernya di dunia militer melesat hingga mencapai puncak sebagai Panglima Divisi II Diponegoro, pasukan yang bertugas menjaga ibukota negara di Yogyakarta. Bahkan, ia sempat menduduki jabatan sipil sebagai penasehat Menteri Pertahanan. Namun, di balik kesuksesannya, tak banyak yang tahu bahwa Soesalit adalah putra Kartini. Ia sengaja menyembunyikan identitasnya, tak ingin memanfaatkan nama besar sang ibu untuk keuntungan pribadi.
Jenderal Nasution, atasan Soesalit, menjadi saksi bagaimana ia memilih hidup sederhana sebagai veteran setelah pensiun. Padahal, dengan mengaku sebagai putra Kartini, ia bisa saja mendapatkan simpati dan bantuan dari banyak orang. Namun, prinsip teguh Soesalit untuk tidak mengumbar identitasnya membuatnya tetap hidup dalam keterbatasan hingga akhir hayatnya. Kisah Soesalit ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan sejati diraih dengan kerja keras dan integritas, bukan dengan memanfaatkan nama besar orang tua.




