jabarpos.id Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, membuka tabir kebutuhan investasi raksasa yang harus dipenuhi Indonesia demi mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 8% yang diidamkan pemerintahan Prabowo Subianto. Pernyataan ini disampaikan di sela-sela acara di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (8/10).
Rosan, yang juga menjabat sebagai Chief Executive Officer Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara), menjelaskan bahwa selama satu dekade terakhir (2014-2024), Indonesia telah berhasil menarik investasi senilai Rp 9.100 triliun. Namun, untuk lima tahun ke depan hingga 2029, targetnya melonjak menjadi sekitar Rp 13.000 triliun. Angka fantastis ini menjadi kunci untuk membuka pintu pertumbuhan ekonomi 8%.

"Ya memang kalau kita bicara investasi memang targetnya menjadi sangat tinggi untuk kita mencapai 8%," ujarnya, menekankan betapa krusialnya investasi dalam mewujudkan ambisi ekonomi tersebut.
Menurut jabarpos.id, realisasi investasi yang masuk akan menciptakan efek domino positif, salah satunya adalah pembukaan lapangan kerja baru. "Karena dengan ini kembali lagi penciptaan lapangan pekerjaan, investasi yang masuk, Insya Allah bisa kita capai dan ini punya dampak yang positif," imbuhnya.
Lebih lanjut, Rosan menyoroti potensi besar yang belum dimaksimalkan, terutama di sektor energi baru terbarukan (EBT). Meskipun Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060, kapasitas terpasang EBT saat ini baru mencapai 15,2 gigawatt dari potensi yang mencapai 3.700 gigawatt.
"Contohnya adalah kita sering berbicara mengenai energi baru terbarukan, renewable energy. Intinya, opportunity kita sangat-sangat tinggi. Kita mesti lakukan juga, di saat bersamaan Indonesia ini kita sudah committed ke dunia, by 2060 kita akan mencapai net zero emission," sebutnya.
Rosan menegaskan bahwa upaya serius dan implementasi yang kuat harus segera dilakukan untuk mengejar target tersebut. "Tetapi kalau lihat install capacity-nya renewable energy kita, ini baru 15,2 gigawatt dari potensi 3.000, close to 3.700 gigawatt. Jadi less than 1%. Sedangkan kalau kita committed sampai 2060 untuk net zero emission, ya harus kita mulai dari sekarang, kalau enggak tidak mungkin terkejar," pungkasnya seperti yang dikutip jabarpos.id.





